Minggu, 01 Desember 2019

BAB II Part 3

B.       Asuhan Kebidanan
Asuhan kebidanan adalah prosedur tindakan, yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan wewenang dalam lingkup praktiknya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan dengan memperhatikan pengaruh-pengaruh sosial, budaya, psikologis, emosional, spiritual, fisik, etika, kode etik, serta hubungan antara prinsip kemitraan dan perempuan. ( Nurhayati,2013, h.11)
1.         Kehamilan
a.       Pengkajian
Data subjektif
1)   Biodata
a)      Nama
Selain sebagai identitas, upayakan agar bidan memanggil dengan nama panggilan sehingga hubungan komunikasi antara bidan dan pasien menjadi lebih akrab.

b)      Umur
Data ini ditanyakan untuk menentukan apakah ibu dalam persalinan beresiko karena usia atau tidak.
c)      Agama
Sebagai dasar bidan dalam memberikan dukungan mental dan spiritual terhadap pasien dan keluarga sebelum dan pada saat persalinan.
d)     Suku/bangsa
Data ini berhubungan dengan soaial budaya yang dianut oleh pasien dan keluarga yang berkaitan dengan persalinan.
e)      Pendidikan terakhir
Untuk menentukan metode yang paling tepat dalam penyampaian informasi mengenai teknik melahirkan bayi.
f)       Pekerjaan
Data ini menggambarkan tingkat sosial ekonomi, pola sosialisasi, dan data pendukung dalam menentukan pola komunikasi yang akan dipilih selama asuhan.
g)      Alamat
Untuk memberikan gambaran mengenai jarak dan waktu yang ditempuh pasien menuju lokasi persalinan.
2)      Riwayat pasien
a)      Keluhan utama
Keluhan utama ditanyakan untuk mengetahui alasan pasien datang ke fasilitas pelayanan kesehatan.
b)      Riwayat kebidanan
Data ini penting untuk diketahui oleh bidan sebagai data acuan untuk memprediksi jalannya proses persalinan dan untuk mendeteksi apakah ada kemungkinan penyulit selama proses persalinan.  
c)      Menstruasi
a)      Menarche
Menarche adalah usia pertama kali mengalami menstruasi. Untuk wanita indonesia pada usia sekitar 12-16 tahun
b)      Siklus
Siklus menstruasi adalah jarak antara menstruasi yang dialami dengan menstruasi berikutnya dalam hitungan hari, biasanya sekitar 22-32 hari
c)      Keluhan
Beberapa wanita menyampaikan keluhan yang dirasakan ketika mengalami menstruasi misalnya sakit yang sangat, pening sampai pingsan, atau jumlah darah yang banyak. Keluhan yang disampaikan oleh pasien dapat menunjuk kepada diagnosis tertentu
d)     Volume
Data ini menjelaskan seberapa banyak darah menstruasi yang dikeluarkan.
3)      Gangguan kesehatan alat reproduksi
Data ini sangat penting untuk kita gali karena akan memberikan petunjuk bagi kita tentang organ reproduksinya. Beberapa data yang perlu kita gali dari pasien adalah apakah pasien pernah mengalami gangguan seperti keputihan, infeksi, gatal karena jamur, atau tumor.
4)      Riwayat kehamilan, persalinan, nifas dan KB yang lalu
Untuk mengetahui apakah klien melahirkan secara spontan atau SC. Pada ibu nifas normal klien melahirkan spontan.
5)      Riwayat kesehatan
Beberapa data penting tentang riwayat kesehatan pasien yang perlu kita ketahui adalah apakah pasien pernah atau sedang menderita penyakit, seperti jantung, diabetes mellitus (DM), ginja, hipertensi/hipotensi, dan hepatitis.
6)      Status perkawinan
Data ini penting untuk dikaji karena dari data ini kita akan mendapatkan gambaran mengenai suasana rumah tangga pasangan.
7)      Pola makan
Data ini penting untuk diketahui agar bisa mendapatkan gambaran bagaimana pasien mencukupi asupan gizinya selama hamil sampai dengan masa awal persalinan.

8)      Pola minum
Kita juga harus dapat memperoleh data dari kebiasaan pasien dalam memenuhi kebutuhan cairannya. Apalagi dalam masa hamil asupan cairan yang cukup sangat dibutuhkan.
9)      Pola istirahat
a)      Istirahat malam hari rata-rata lama tidur malam hari yang normal adalah 6-8 jam
b)      Istirahat siang hari tidak semua wanita mempunyai kebiasaan tidur siang. Oleh karena itu, hal ini dapat kita sampaikan kepada ibu bahwa tidur siang sangat penting untuk menjaga kesehatan selama hamil.
10)  Aktivitas sehari-hari
a)      Kita perlu mengkaji aktivitas sehari-hari pasien karena data ini memberikan gambaran tentang seberapa berat aktivitas yang biasa dilakukan pasien di rumah.
11)  Personal higiene
a)      Mandi
Kita dapat menanyakan kepada pasien berapa kali ia mandi dalam sehari dan kapan  waktunya (jam berapa mandi pagi dan sore)
b)      Keramas
Pada beberapa wanita ada yang kurang peduli dengan kebersihan rambutnya karena mereka beranggapan keramas tidak begitu berpengaruh terhadap kesehatannya.
c)      Ganti baju dan celana dalam
Ganti baju minima sekali dalam sehari, sedangkan celana dalam minimal dua kali.
d)     Kebersihan kuku
Kuku ibu hamil harus selalu dalam keadaan pendek dan bersih.
12)  Aktivitas seksual
a)      Walaupun ini adalah hal yang cukup privasi bagi pasien, namun bidan harus menggali data dari kebiasaan ini, karena terjadi beberapa kasus keluhan dalam aktivitas seksual yang cukup mengganggu pasien namun ia tidak tahu ke mana harus berkonsultasi. (Sulistyawati, 2014, h.183-222)
Data objektif
1)      Keadaan umum
Untuk megetahui data ini kita cukup dengan mengamati keadaan pasien secara keseluruhan.
a)      Baik
Jika pasien memperlihatkan respons yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara fisik pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan.
b)      Lemah
Pasien dimasukkan dalam kriteria ini jika ia berkurang atau tidak memberikan respons yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, dan pasien sudah tidak mampu lagi untuk berjalan.
2)      Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, kita dapat melakukan pengkajian tingkat kesadaran mulai dari keadaan composmentis (kesadaran maksimal) sampai dengan koma (pasien tidak dalam keadaan sadar).
3)      Tanda vital
Rentang nilai normal tanda-tanda vital
a)      Tekanan darah: 110-120/70-80 mmHg
b)      Nadi                          : 60-100 x/ menit       
c)      Pernapasan    : 16-20 x/ menit
Suhu          : 36,5o-37,5oC  
4)         Tinggi badan
Tinggi badan ibu hamil < 145 cm menunjukkan ukuran panggul yang kecil sehingga ibu beresiko melahirkan melalui operasi cesar.
5)         Berat badan
Tabel 2.4
Nilai IMT
Nilai IMT
KET
19,8 – 26,6
Normal
<19,8
Underweight
26,6 – 29,0
Overweight
>29,0
Obese


Anjuran pertambahan berat badan selama kehamilan
a)      Total 12,5-17,5 kg untuk wanita yang memiliki berat badan normal.
b)      14-20 kg untuk wanita yang memiliki berat badan kurang.
7,5-12,5 kg untuk wanita yang memiliki berat badan lebih.
6)         Lingkar lengan atas (LILA)
Lingkar lengan atas diukur pada setengah panjang lengan nondominan, nilainya harus lebih dari 23,5 cm. (Kamariyah, 2014, hal.51-63)
7)      Tafsiran persalinan
Untuk HPL biasanya digunakan rumus Neagle, yaitu sebagai berikut
HPL=HPHT + 7 hari – 3 bulan +1 tahun (Sulistyawati, 2013, hal.53)
8)      Head to toe
a)      Kepala: rambut (warna, kebersihan, mudah rontok atau tidak) aris
b)      Mata : Konjungtiva, sklera dan kebersihan.
c)      Hidung : kebersihan dan polip
d)     Mulut : bibir (warna dan integritas jaringan), lidah (warna dan kebersihan), gigi (kebersihan, karies, gangguan pada mulut)
e)      Telinga : kebersihan dan gangguan pendengaran
f)       Leher : pembesaran kelenjar tiroid dan bendungan vena jugularis.
g)      Dada : bentuk, simetris/tidak, payudara (Bentuk, hiperpigmentasi areola payudara, nyeri atau tidak, kolostrum, keadaan putting, kebersihan.)
h)      Abdomen  : bekas luka operasi, striae, linea
Tabel 2.5
Tinggi Fundus Uteri TFU
Usia Kehamilan (Minggu)
Tinggi Fundus Uteri (TFU)
12
3 jari diatas simpisis
16
Pertengahan pusat-simfisis
20
3 jari dibawah simfisis
24
Setinggi pusat
28
3 jari di atas pusat
32
Pertengahan pusat-prosesus xiphoideus (px)
36
3 jari dibawah prosesus xiphoideus
40
Pertengahan pusat- prosesus xiphoideus

i)        Leopold
Hasil pemeriksaan Leopold bertujuan untuk menentukan posisi janin melalui palpasi abdomen secara sistematis. Hasilnya yaitu :
Pemeriksaan Leopold I : digunakan untuk mengetahui bagian janin yang ada di fundus dan mengukur tinggi fundus uteri (TFU).
Pemeriksaan Leopold II : tujuan pemeriksaan leopold II adalah untuk menentukan bagian janin yang ada di samping kanan dan kiri perut ibu.
Pemeriksaan Leopold III : tujuan pemeriksaan leopold III adalah untuk menentukan presentasi janin dan apakah sudah masuk pintu atas panggul atau belum.
Pemeriksaan Leopold IV : tujuan pemeriksaan Leopold IV adalah untuk mengetahui seberapa bagian presentasi janin yang sudah masuk PAP.  (Sulistyawati, 2016, h. 90-92).
j)        DJJ
Denyut jantung janin (DJJ) Penilaian DJJ dilakukan pada akhir trimester I dan selanjutnya setiap kali kunjungan antenatal. Jika DJJ lambat (<120 denyut/menit) atau DJJ cepat (>160 denyut/menit), maka menunjukkan adanya gawat janin.
k)      Ekstremitas atas dan bawah  :untuk melihat tanda anemia pada kuku jari serta bengkak pada tangan dan kaki, refleks patella, serta varises.
l)        Genitalia : skrining 9o;tanda dan gejala penyakit menular seksual.
m)    Punggung : menilai keadaan tulang belakang dan nyeri ketuk.
n)      Anus : hemoroid, kebersihan (Astuti,2017.h:124-126)
9)      Data penunjang
a)         Pemeriksaan Panggul
Pelvimetri merupakan pengukuran pada panggul menggunakan jangka panggul, meliputi area berikut ini:
1.         Distansia spinarum                     : minimal 23 cm
2.         Ditansia kristarum                      : minimal 25 cm
3.         Konjugata eksterna                    : 18-20 cm
4.         Lingkar panggul luar                  :>80cm (Sulistyawati,2014,h.25-26)
b)         Data laboratorium :
Kadar Hb
Hasil pemeriksaan Hb dengan sahli dapat di golongkan sebagai berikut :
Hb 11 g%      tidak anemia
Hb 9-10 g%   anemia ringan
Hb 7-8 g%     anemia sedang
Hb <7 g%      anemia berat (Manuaba,2014,h.239)
b.      Interpretasi data dasar
Langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis, masalah dan kebutuhan pasien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan


1.      Diagnosis kebidanan/Nomenklatur
Dalam bagian ini yang disimpulkan oleh bidan antara lain paritas, usia kehamilan dalam minggu, keadaa janin, normal atau tidak normal.
2.      Masalah
Masalah sering berhubungan dengan bagaimana wanita itu mengalami kenyataan terhadap diagnosisnya.

3.      Kebutuhan pasien
Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan dan masalahnya. (Sulistyawati, 2013, ha.229)
c.       Merumuskan diagnosis/Masalah potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial lain berdasarkan rangkaian masalah yang lain juga.
d.      Mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan penanganan segera
Dalam pelaksanaannya terkadang bidan dihadapkan pada beberapa situasi yang memerlukan penanganan segera (emergensi) di mana bidan harus segera melakukan tindakan untuk menyelamatkan
e.       Merencanakan asuhan kebidanan
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeuruh berdasarkan langkah sebelumnya. Semua perencanaan yang di buat harus berdasarkkan pertimbangan yang tepat, meliputi pengetahuan, teori yang up to date, perawatan berdasarkan bukti (evidance based care), serta di validasikan dengan asumsi mengenai apa yang diinginkan dan tidak di inginkan oleh pasien.
f.       Pelaksanaan asuhan kebidanan
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah di uraikan pada langkah kelima diaksanakan secara efisien dan aman.
g.      Evaluasi
Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan yang kita berikan kepada pasien.(Sulistyawati, 2013, ha.189-200)

2.      Persalinan
a.          Pengkajian
Data subjektif
1)       Keluhan utama
Kapan mulai ada kencang-kencang di perut, bagaimana itensitas dan frekuensinya, apakah ada pngeluaran  cairan dari vagina  yang berbeda dari air kemih, apakah sudah adaa pengeluaran lendir berampur darah.
2)         Pola makan
Data ini penting untuk diketahui agar bisa mendapatkan gambaran bagaimana pasien mencukupi asupan gizinya selama hamil sampai dengan masa awal persalinan.

3)      Pola minum
Pada masa persalinan, data mengenai intake cairan sangat penting karena akan menentukan kecenderungan terjadinya dehidrasi. Data yang perlu kita tanyakan berkaitan dengan intake cairan adalah kapan terakhir kali minum, berapa banyak yang diminum, apa yang diminum. Pada pertengahan sampai akhir kala I biasanya pasien akan sangat membutuhan cairan, bukan makanan. Disamping pasien sudah tidak berselera lagi untuk makan karena rasa sakit akibat his, juga karena pengeluaran keringat yang bertambah sehingga membutuhkan pemasukan cairan yang lebih banyak.
4)      Pola istirahat
Istirahat sangat diperukan oleh pasien untuk mempersiapkan energi menghadapi proses persalinannya, hal ini akan lebih penting lagi jika proses persalinannya mengalami pemanjangan waktu pada kala I.  Data yang ditanyakan adalah kapan terakhir tidur, berapa lama, aktivitas sehari-hari. Jika di akhir kehamilannya pasien melakukan aktivitas yang terlalu berat dikhawatirkan pasien akan merasa kelelahan sampai akhirnya dapat menimbulkan penyulit pada masa bersalin.

Data objektif
1)      Keadaan umum
Data ini didapat dengan  mengamati keadaan pasien secara keseluruhan. Dikatakan baik jika pasien memperlihatkan respons yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara fisik pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan. Jika lemah pasien kurang atau tidak memberikan respons yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, dan pasien sudah tidak mampu lagi untuk berjalan sendiri. (Sulistyawati,2013, h.223-226)
2)      Tanda-tanda vital
Rentang nilai normal tanda-tanda vital
Tekanan darah                   : 110-120/70-80 mmHg
Nadi                                   : 60-100 x/ menit       
Pernapasan                         : 16-20 x/ menit
Suhu                                   :36,5o-37,5oC  (Kamariyah dkk, 2014, hal.51)
3)      Pemeriksaan abdomen
Pemeriksaan abdomen bertujuan untuk menentukan tinggi fundus uteri, memantau kontraksi uterus, memantau denyut jantung janin, menentukan presentasi,dan menentukan penurunan bagian terbawah janin.  (Sondakh, 2013, h.107)
4)      His
Menurut teori keluhan persalinan yang dirasakan menjelang persalinan yaitu pinggang terasa sakit menjalar ke depan, sifat his teratur, interval makin pendek, dan kekuatan makin besar, terjadi perubahan pada serviks. Jika pasien menambah aktivitasnya, misalnya dengan berjalan, maka kekuatanya bertambah. (Sulistyawati,2013, h.7)
5)      Tahapan persalinan
Kala I
Kala I dimulai dari saat persalinan mulai (pembukaan nol) sampai pembukaan lengkap (10 cm). Proses di atas terjadi pada primigravida ataupun multigravida, pada primigravida, kala I berlangsung ±12 jam, sedangkan pada multigravida ±8 jam.
Kala II
Lamanya kala II untuk primigravida 1,5-2 jam dan mutigravida ½ -1 jam.
Kala III
Kala III dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit.
Kala IV
Kala IV dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam postpartum. Kala ini terutama bertujuan untuk melakukan observasi karena perdarahan postpartum paling sering terjadi pada 2 jam pertama. (Sondakh, 2013, h. 5-6)

b.      Interpretasi data dasar
Langkah ini dilakukan identifikasi terhadap rumusan diagnosis, masalah dan kebutuhan pasien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.
c.       Merumuskan diagnosis/Masalah potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosis potensial lain berdasarkan rangkaian masalah yang ada. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila mungkin dilakukan pencegahan.
d.      Mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan penanganan segera
Dalam pelaksanaannya bidan kadang dihadapkan pada beberapa situasi darurat dimana harus segera melakukan tindakan untuk menyelamatkan pasien.
e.       Merencanakan asuhan kebidanan
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeuruh berdasarkan langkah sebelumnya.. Semua perencanaan harus berdasarkan pertimbangan yang meliputi pengetahuan, teori yang terbaru, evidence based care serta divalidasi dengan asumsi mengenai apa yang diinginkan dan tidak diinginkan oleh pasien.
f.       Pelaksanaan asuhan kebidanan
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah di uraikan pada langkah kelima diaksanakan secara efisien dan aman.
g.      Evaluasi
Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan yang kita berikan kepada pasien. (Sulistyawati,2013,h.228-233)


3. Nifas
a.       Pengumpulan Data
1)      Pengkajian
a)      Keluhan utama
Untuk mengetahui keluhan yang dirasakan ibu setelah melahirkan.
b)      Keadaan umum
Untuk mengetahui keadaan ibu secara umum nifas normal biasanya baik. (Marmi,2014,h.180)
c)      Tanda-tanda vital
1.      Tekanan darah
Biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah setelah melahirkan karena ada pendarahan. Tekanan darah tinggi pada postpartum dapat menandakan terjadinya preeklamsia postpartum.
2.      Suhu badan
Satu hari (24 jam) postpartum suhu badan akan naik sedikit (37,5-380 C) sebagai akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan.
3.      Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80x/menit. Sehabis melahirkan biasanya denyut nadi itu akan lebih cepat.
4.      Pernapasan
Keadaan pernapasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu tidak normal, pernapasan juga akan mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan khusus pada saluran napas.  
2)      Pemeriksaan fisik
Muka : kelopak mata ada edema atau tidak, konjungtiva merah muda atau pucat, sklera putih atau tidak
Mulut dan gigi :Lidah bersih atau tidak dan gigi ada karies atau tidak.
Dada : Jantung, irama jantung teratur atau tidak, paru-paru ada ronchi dan wheezing atau tidak.
Payudara : bentuk simetris atau tidak, putting susu menonjol atau tidak, pengeluaran colostrum.
Abdomen : bekas luka operasi untuk mengetahui apakah pernah SC atau operasi lain, konsistensi keras atau tidak.
Uterus : untuk mengetahui berapa TFU, bagaimana kontraksi uterus, konsistensi uterus, posisi uterus. Pada ibu nifas normal TFU 2 jari dibawah pusat kontraksinya baik.
Perineum : Untuk mengetahui apakah perineum ada bekas jahitan atau tidak, juga tentang jahitan perinium klien.
Kandung kemih : Untuk mengetahui apakah kandung kemih teraba atau tidak, pada ibu nifas normal kandung kemih tidak teraba.
Ekstremitas atas dan bawah : Edema ada atau tidak, kekauan otot dan sendi ada atau tidak, Kemerahan ada atau tidak, Varises ada atau tidak, Reflek patella kanan kiri +/- normalnya +.

b.      Interpretasi data
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar.
1)      Anamnesa : Jumlah kelahiran, pernah abortus atau tidak, masa setelah melahirkan.
2)      Masalah : Berkaitan dengan keadaan psikologis ibu, normalnya tidak ada masalah.
3)      Kebutuhan : Berdasarkan atas keadaan umum dan keadaan fisik ibu biasanya dibutuhkan konseling lebih lanjut.
c.       Identifikasi diagnosa dan masalah potensial
Langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian, masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Diagosa potensial pada nifas normal biasanya tidak ada diagnosa potensial.
d.      Identifikasi kebutuhan yang memerlukan penanganan segera
Pada langkah ini dilakukan tindakan segera oleh bidan atau dokter atau untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. Biasanya pda ibu nifas normal tidak dilakukan kolaborasi dengan dokter SPOG atau tim kesehatan lain.
e.       Perencanaan
Pada langkah ini dilakukan perencanaan asuhan menyeluruh dan rasional.
f.       Pelaksanaan asuhan kebidanan
Pada langkah ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah di uraikan pada langkah kelima diaksanakan secara efisien dan aman.
g.      Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan secara efektif dan efisien. (Marmi,2017,h.104)

C. Kewenangan Bidan
Kewenangan bidan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 tahun 2017 yaitu sebagai berikut :
1.      Pasal 18 
Dalam penyelenggaraan Praktik Kebidanan, Bidan memiliki kewenangan untuk memberikan:
a.    Pelayanan kesehatan ibu
b.    Pelayanan kesehatan anak, dan
c.    Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana.


2.      Pasal 19
a.       Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 huruf a diberikan pada masa sebelum hamil, masa hamil, masa persalinan, masa nifas, masa menyusui, dan masa antara dua kehamilan.
b.      Pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pelayanan:
1)      konseling pada masa sebelum hamil
2)      antenatal pada kehamilan normal
3)      persalinan normal
4)      ibu nifas normal
5)      ibu menyusui
6)      konseling pada masa antara dua kehamilan.
c.       Dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Bidan berwenang melakukan:
1)      Episiotomy
2)      pertolongan persalinan normal
3)      penjahitan luka jalan lahir tingkat I dan II
4)      penanganan kegawat-daruratan, dilanjutkan dengan perujukan
5)      pemberian tablet tambah darah pada ibu hamil
6)      pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas
7)      fasilitasi/bimbingan inisiasi menyusu dini dan promosi air susu ibu eksklusif
8)      pemberian uterotonika pada manajemen aktif kala tiga dan postpartum
9)      penyuluhan dan konseling
10)  bimbingan pada kelompok ibu hamil
11)  pemberian surat keterangan kehamilan dan kelahiran.
3.      Pasal 20
a.         Pelayanan kesehatan anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 huruf b diberikan pada bayi baru lahir,bayi, anak balita, dan anak prasekolah.
b.         Dalam memberikan pelayanan kesehatan anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Bidan berwenang melakukan:
1)      pelayanan neonatal esensial
2)      penanganan kegawatdaruratan, dilanjutkan dengan perujukan
3)      pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, dan anak prasekolah
4)      konseling dan penyuluhan.
c.         Pelayanan noenatal esensial sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a meliputi inisiasi menyusui dini, pemotongan dan perawatan tali pusat, pemberian suntikan Vit K1, pemberian imunisasi B0, pemeriksaan fisik bayi baru lahir, pemantauan tanda bahaya, pemberian tanda identitas diri, dan merujuk kasus yang tidak dapat ditangani dalam kondisi stabil dan tepat waktu ke Fasilitas Pelayanan Kesehatanyang lebih mampu.
d.        Penanganan kegawatdaruratan, dilanjutkan dengan perujukan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b meliputi:
1)   Penanganan awal asfiksia bayi baru lahir melalui pembersihan jalan nafas, ventilasi tekanan positif, dan/atau kompresi jantung
2)   Penanganan awal hipotermia pada bayi baru lahir dengan BBLR melalui penggunaan selimut atau fasilitasi dengan cara menghangatkan tubuh bayi dengan metode kangguru
3)   Penanganan awal infeksi tali pusat dengan mengoleskan alkohol atau povidon iodine serta menjaga luka tali pusat tetap bersih dan kering
4)   Membersihkan dan pemberian salep mata pada bayi baru lahir dengan infeksi gonore (GO).
e.         Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, dan anak prasekolah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c meliputi kegiatan penimbangan berat badan, pengukuran lingkar kepala, pengukuran tinggi badan, stimulasi deteksi dini, dan intervensi dini peyimpangan tumbuh kembang balita dengan menggunakan Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP)
f.          Konseling dan penyuluhan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d meliputi pemberian komunikasi, informasi, edukasi (KIE) kepada ibu dan keluarga tentang perawatan bayi baru lahir, ASI eksklusif, tanda bahaya pada bayi baru lahir, pelayanan kesehatan, imunisasi, gizi seimbang, PHBS, dan tumbuh kembang.
4.      Pasal 21
Dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana sebagaimana dimaksud dalam pasal 18 huruf c, Bidan berwenang memberikan:
a.       Penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi  perempuan dan keluarga berencana
b.      Pelayanan kontrasepsi oral, kondom, dan suntikan. 
(Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2017)

B.       Alur Asuhan Kebidanan
Penyebab ruptur perenium, Sumber : Lestari,2019.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar