1)
Waktu perawatan
perineum
Waktu perawatan perineum yakni :
a) Saat mandi : pada
saat mandi, ibu post partum pasti melepas pembalut, setelah terbuka maka ada
kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri pada cairan yang tertampung pada
pembalut, untuk itu maka perlu dilakukan penggantian pembalut, demikian pula
pada perineum ibu, untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
b) Setelah buang air
kecil : pada saat buang air kecil, pada saat buang air kecil kemungkinan besar
terjadi kontaminasi air seni pada rectum akibatnya dapat memicu pertumbuhan
bakteri pada perineum untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
c) Setelah buang air
besar : pada saat buang air besar, diperlukan pembersihan sisa-sisa kotoran
disekitar anus, untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri dari anus ke
perineum yang letaknya bersebelahan maka diperlukan proses pembersihan anus dan
perineum secara keseluruhan.
2)
Dampak perawatan
luka perineum
Perawatan perineum yang dilakukan dengan baik dapat menghindarkan
hal berikut ini :
a) Infeksi : Kondisi
perineum yang terkena lokia dan lembab akan sangat menunjang perkembangbiakan
bakteri yang dapat menyebabkan timbulnya infeksi pada perineum.
b) Komplikasi :
Munculnya infeksi pada perineum dapat merambat pada saluran kandung kemih
ataupun pada jalan lahir yang dapat berakibat pada munculnya komplikasi
infeksi.
c) Kematian ibu post
partum : Penanganan komplikasi yang lambat menyebabkan terjadinya kematian pada
ibu post partum mengingat kondisi fisik ibu post partum masih lemah.
3)
Fase-fase
penyembuhan luka
a) Fase inflamasi,
berlangsung selama 1 sampai 4 hari. Ketika mikrosirkulasi mengalami kerusakan,
elemen darah seperti antibody, plasma protein, elektrolit, komplemen, dan air
menembus spasium vascular selama 2 sampai 3 hari, menyebabkan edema, teraba
hangat, kemerahan dan nyeri.
b) Fase proliferatif,
berlangsung 5 sampai 20 hari.
Fibroblas memperbanyak diri dan membentuk
jaringan-jaringan untuk sel-sel yang bermigrasi. Sel-sel epitel membentuk
kuncup pada pinggiran luka,kuncup ini berkembang menjadi kapiler, yang
merupakan sumber nutrisi bagi jaringan granulasi yang baru.
c)
Fase maturasi, berlangsung 21 hari sampai
sebulan atau bahkan tahunan.
Sekitar 3 minggu
setelah cedera, fibroblast mulai meninggalkan luka.Jaringan parut tampak besar,
sampai fibril kolagen menyusun kedalam posisi yang lebih padat.Hal ini, sejalan
dengan dehidrasi, mengurangi jaringan parut tetapi meningkatkan kekuatannya.
Maturasi jaringan seperti ini terus berlanjut dan mencapai kekuatan maksimum
dalam 10 atau 12 minggu, tetapi tidak pernah mencapai kekuatan asalnya dari
jaringan sebelum luka.
4)
Penatalaksanaan
a) Persiapan pada ibu
post partum : perawatan perineum sebaikanya dilakukan dikamar mandi dengan
posisi ibu jongkok jika ibu telah mampu atau berdiri dengan posisi kaki
terbuka.
b) Penatalaksanaan yang
diberikan pada ibu adalah: Perawatan khusus perineal bagi wanita setelah
melahirkan anak mengurangi rasa ketidaknyamanan, kebersihan, mencegah infeksi,
dan meningkatkan penyembuhan dengan prosedur pelaksanaan sebagai berikut :
mencuci tangannya, mengisi botol plastik yang dimiliki dengan air hangat, buang
pembalut yang penuh dengan gerakan kebawah mengarah ke rektum dan letakkan
pembalut tersebut kedalam kantung plastic, berkemih dan BAB ke toilet,
keringkan perineum dengan menggunakan tissue dari depan ke belakang, pasang
pembalut dai depan ke belakang, cuci kembali tangan.
Lakukan
evaluasi, parameter yang digunakan dalam evaluasi hasil perawatan adalah :
Perineum tidak lembab, posisi pembalut tepat, ibu merasa nyaman.
c)
Efektivitas Senam Kegel Terhadap Waktu
Penyembuhan Luka Perineum Pada Ibu Post Partum Normal
Menurut
Ari Antini pada tahun 2016 pengaruh
senam kegel terhadap percepatan penyembuhan luka perineum disebabkan karena
kontraksi otot-otot pubococcygeal mempengaruhi sirkulasi oksigenisasi dan
memperlancar peredaran darah sehingga membuat tumbuhnya jaringan baru untuk
merapatkan luka jahitan (mempercepat fase proliferatif).
Rata-rata
lama waktu penyembuhan luka perineum pada kelompok senam kegel adalah 6 hari
dengan batasan minimal 5 hari dan maksimal 7 hari lebih cepat dibandingkan pada
kelompok mobilisasi dengan rata-rata jumlah hari adalah 7 hari, dengan batasan
minimal 4 hari dan maksimal 9 hari.
d)
Efektivitas Sirih Merah Dalam Perawatan Luka Perineum Di Bidan Praktik
Mandiri
Menurut Susilo Damarini
pada tahun 2014 Sediaan gel ekstrak daun sirih mempunyai
daya antiseptik. Sediaan gel dengan kadar ekstrak daun sirih mulai 15%
mempunyai kemampuan menurunkan mikroorganisme di telapak tangan sampai 57%,
sedangkan kadar ekstrak 25% mampu menghilangkan semua mikroorganisme. Daya
antiseptik sediaan gel ekstrak daun sirih dengan kadar 15% mempunyai daya
antiseptik sama dengan sediaan gel etanol, sedangkan sediaan gel ekstrak daun
sirih dengan kadar 20%. dan 25% mempunyai daya antiseptik sama dengan sediaan
gel triklosan. Selanjutnya didukung teori yang mengatakan tentang khasiat daun
sirih merah ini digunakan untuk mengurangi keputihan dan menjaga organ
kewanitaan karena salah satu khasiat dari sirih merah adalah sebagai
antiseptik, yaitu dengan merebus 7-10 lembar daun sirih merah, lalu menggunakan
air rebusan tersebut untuk membilas organ kewanitaan. Daun sirih tergolong
tanaman yang mempunyai banyak efek terapi. Di antara kandungan daun sirih
tersebut adalah minyak atsiri, hidroksikavicol, kavicol, kavibetol, allylpyrokatekol,
cyneole, caryophyllene, cadinene, estragol terpennena, seskuiterpena,
fenil propana, tanin, diastase, gula, dan pati.
Berdasarkan
hasil penelitian tentang efektivitas daun sirih merah dalam perawatan luka
perineum dapat disimpulkan bahwa rata-rata lama penyembuhan luka perineum
dengan menggunakan infusum daun sirih merah adalah 3-4 hari, sedangkan lama
penyembuhan dengan menggunakan iodin rata-rata 5-6 hari. Berarti perawatan luka
perineum pada ibu nifas lebih efektif menggunakan infusum sirih merah daripada
iodin, karena ratarata lama hari penyembuhan lebih pendek menggunakan infusum
sirih merah dari pada menggunakan iodin, walaupun peneliti lain berpendapat
bahwa lama penyembuhan luka ada hubungan yang signifikan dengan kadar
hemoglobin.10 Infusum daun sirih merah sekaligus menghilangkan bau tidak sedap
pada genitalia pada ibu yang mengalami luka perineum postpartum.
e)
Hubungan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka Dengan Lama
Penyembuhan Luka Perineum Ibu Nifas
Berdasarkan hasil penelitian Darmawati dan Ia Sastra
pada tahun 2014 dapat disimpulkan :
1) Ada
hubungan antara status nutrisi dengan lama penyembuhan luka perineum pada ibu
nifas.
2) Ada
hubungan antara istirahat dengan lama penyembuhan luka perineum pada ibu nifas.
3) Ada
hubungan antara stress dengan lama penyembuhan luka perineum pada ibu nifas.
4) Ada
hubungan antara infeksi dengan lama penyembuhan luka perineum pada ibu nifas.
5) Tidak
ada hubungan antara kondisi medis dengan lama penyembuhan luka perineum pada
ibu nifas.
1.
Konsep
dasar masa nifas
a.
Definisi
nifas
Masa nifas adalah masa pulih
kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali
seperti prahamil.
1)
Tahapan
Masa Nifas
Masa nifas dibagi
menjadi tiga tahapan :
a)
Puerperium dini yaitu kepulihan
dimana ibu diperbolehkan berdiri dan berjalan, serta menjalankan aktivitas
layaknya wanita normal lainnya.
b)
Puerperium intermedial
yaitu suatu kepulihan menyeluruh dari organ-organ genetaliayang lamanya sekitar
6-8 minggu
Puerperium
Remote yaitu waktu yang diperukan untuk pulih dan sehat sempurna apabila ibu selama hamil atau persalinan mempunyai komplikasi.
2)
Kebijakan
Program Nasional Masa Nifas
Pada kebijakan program
nasional masa nifas paling sedikit 4 kali kunjungan yang dilakukan. Hal ini
untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir serta untuk mencegah, mendeteksi,
dan menangani masalah-masalah yang terjadi antara lain sebagai berrikut :
a) 6-8
jam setelah persalinan.
(1)
Mencegah perdarahan
masa nifas karena atonia uteri.
(2)
Mendeteksi dan merawatan
penyebab lain perdarahan, rujuk bila peradaran berlanjut.
(3)
Memberikan konseling
kepada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa
nifas karena atonia uteri.
(4)
Pemberian ASI awal
(5)
Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
(6)
Menjaga bayi tetap
sehat dengan cara pencegahan hipotermi.
b) 6
hari setelah persalinan.
(1)
Memastikan involusi
uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak
ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.
(2)
Menilai adanya
tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan abnormal.
(3)
Memastikan ibu mendapat
cukup makanan, cairan, dan istirahat.
(4)
Memastikan ibu menyusui
dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda penyulit.
(5)
Memberikan konseling
pada ibu mengenai asuhan pada bayi dan tali pusat, serta menjaga bayi tetap
hangat dan merawat bayi sehari-hari.
c) 2
minggu setelah persalinan
Memastikan rahim sudah
kembali normal dengan mengukur dan meraba bagian rahim.
d) 6
minggu setelah persalinan
(1)
Menanyakan pada ibu
tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi alami.
(2)
Memberikan konseling untuk
KB secara dini. (Dewi, 2014,
hal.1-5)
3)
Perubahan
fisiologi masa nifas
a) Perubahan
sistem reproduksi
(1)
Uterus
Peroses
involusi adalah proses kembalinya uterus kedalam keadaan sebelum hamil setelah
melahirkan. Spade minggu keenam, berat menjadi 50-60 gram.
Proses
involusi uterus adalah sebagai berikut :
(1) Iskemia
Miometrium
Disebabkan oleh
kontraksi dan retraksi yang terus menerus dari uterus setelah pengeluaran
plasenta membuat uterus relative anemi dan menyebabkan serat otot atrofi.
(2) Autolisis
Merupakan proses
penghancuran diri sendiri yang terjadi didalam otot uterus. Enzim proteolitik
akan memendekkan jaringan otot yang telah sempat mengendur hingga panjangnya 10 kali dari semula dan lebar lima
kali dari semula selama kehamilan atau dapat juga dikatakan sebagai perusakan
secara langsung jaringan hipertrofi yang berlebihan. Hal ini disebabkan karena
penurunan hormone estrogen dan progesteron.
(3) Efek
oksitosin
Oksitosin menyebabkan
terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterin sehingga akan menekan pembuluh
darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses ini
membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta serta mengurangi
peradarahan.
Tabel
2.3 Involusi uterus
|
Involusi
|
TFU
|
Berat
Uterus (gr)
|
Diameter
Uterus (cm)
|
Keadaan
serviks
|
|
Bayi lahir
|
Setinggi pusat
|
1000
|
|
|
|
Uri lahir
|
2 jari dibawah pusat
|
750
|
12,5
|
Lembek
|
|
Satu minggu
|
Pertengahan pusat-simfisis
|
500
|
7,5
|
Beberapa hari setelah postpartum
dapat dilalui 2 jari akhir minggu pertama dapat dimasuki 1 jari
|
|
Dua minggu
|
Tak teraba di
atasi simfisis
|
350
|
3 –
4
|
|
|
Enam minggu
|
Betambah kecil
|
30 –
60
|
1 –
2
|
|
|
Delapan minggu
|
Sebesar normal
|
30
|
|
b) Involusi
tempat plasenta
Setelah persalinan,
tempat plasenta merupakan tempat dengan permukaan kasar, tidak rata, dan
kira-kira sebesar telapak tangan. Dengan cepat luka ini mengecil, pada akhir
minggu ke-2 hanya sebesar 3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm. penyembuhan luka
bekas plasenta khas sekali. Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung
banyak pembuluh darah besar yang tersumbat oleh trombus.
c) Perubahan
ligament
Ligamen-ligamen dan
diafragma velpis, serta fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan partus,
setelah janin lahir, berangsur-angsur menciut kembali seperti sediakala.
d) Perubahan
pada serviks
Serviks mengalami
involusi bersama-sama uterus. Perubahan-perubahan yang terdapat pada serviks
postpartum adalah bentuk serviks yang akan menganga seperti corong. Bentuk ini
disebabkan oleh korpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi, sedangkan serviks
tidak berkontraksi sehingga seolah-olah pada perbatasan antara korpus dan
serviks uteri terbentuk semacam cincin.
e) Lokia
Lokia adalah ekskresi
cairan rahim yang selama masa nifas dan mempunyai reaksi basa/alkalis yang
dapat membuat organisme berkembang lebih cepat daripada kondisi asam yang ada pada vagina normal. Lokia mempunyai
bau yang amis, meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya berbeda-beda pada
setiap wanita. Lochea juga mengalami perubahan karena proses involusi. Pengeluaran
lokia dapat dibagi berdasrkan waktu dan warnanya diantaranya sebagai berikut :
(1) Lokia
rubra/merah (kruenta)
Lokia ini muncul
pada hari pertama sampai hari ketiga masa postpartum. Sesuai dengan warnanya,
warnanya biasanya merah dan mengandung darah dari perobekan/luka pada plasenta
dan serabut dari desidua dan chorion.
(2) Lokia
sanguinolenta
Lokia ini
berwarna merah kuning berisi darah dan lender karena pengaruh plasma darah,
pengeluarannya pada hari ke 3-5 hari
postpartum.
(3) Lokia
serosa
Lokia ini muncul
pada hari ke 5-9 postpartum. Warnanya biasanya kekuningan atau kecoklatan. Lokia
ini terdiri atas lebih sedikit darah dan lebih banyak serum, juga terdiri atas leukosit
dan robekan laserasi plasenta.
(4) Lokia
alba
Lokia ini muncul lebih dari hari ke-10
postpartum. Warnanya lebih pucat, putih kekuningan, serta lebih banyak
mengandung leukosit, selaput lender serviks, dan serabut jaringan yang mati.
f)
Perubahan pada vagina dan perineum
Estrogen pascapartum
yang menurun berperan dalam penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Vagina
yang semula sangat teregang akan kembali secara bertahap pada ukuran sebelum
hamil selama 6-8 minggu setelah bayi
lahir. Regae akan kembali terlihat sekitar minggu keempat, walaupun tidak akan
menonjol pada wanita multipara. Pada umumnya
rugae akan memipih secara permanen. Mukosa tetap atrofik pada wanita yang
menyusui sekurang-kurangnya sampai menstruasi dimulai kembali. Penebalan mukosa
vagina terjadi seiring pemulihan fungsi ovarium.
g)
Perubahan tanda-tanda vital
(1)
Suhu badan
Satu hari (24
jam) postpartum suhu bdan akan naik sedikit (37,5-380C) sebagai
akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan.
(2)
Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80
x/menit. Sehabis melahirkan biasanya denyut nadi itu akan lebih cepat.
(3)
Tekanan darah
Biasanya tidak berubah, kemungkinan
tekanan darah akan rendah setelah melahirkan karena ada pendarahan. Tekanan
darah tinggi pada postpartum dapat menandakan terjadinya preeklamsia
postpartum.
(4)
Pernapasan
Keadaan pernapasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu
dan denyut nadi. Bila suhu tidak normal, pernapasanjuga akan mengikutinya,
kecuali apabila ada gangguan khusus pada saluran napas.
h)
Perubahan sistem
kardiovaskular
1) Volume
darah
Perubahan volume darah
bergantung pada beberapa faktor, misalnya kehilangan darah selama melahirkan
dan mobilisasi, serta pengeluaran cairan ekstravaskular (edema fisiologis).
Kehilangan darah merupakan akibat penurunan volume darah total yang cepat,
tetapi terbatas. Setelah itu terjadi perpindahan normal cairan tubuh yang
menyebabkan volume darah menurun dengan lambat. Pada minggu ke-3 dan ke-4
setelah bayi lahir, volume darah biasanya menurun sampai mencapai volume darah
sebelum hamil. Pad persalinan per vaginam, ibu kehilangan darah sekitar 300-400
cc.
2) Curah
jantung
Denyut jantung, volume
sekuncup, dan curah jantung meningkat sepanjang masa hamil. Segera setelah
wanita melahirkan, keadaan ini meningkat bahkan lebih tinggi selama 30-6- menit
karena darah yang biasanya melintasi sirkulasi uteroplasenta tiba-tiba kembali
ke sirkulasi umum. Nilai ini meningkat pada semua jenis kelahiran.
c) Peruban sistem hematologi
Leukositosis yang meningkat dimana jumlah sel darah putih dapat mencapai 15.000 selama persalinan
akan tetap tinggi dalam beberapa hari pertama postpartum. Jumlah sel darah putih tersebut
masih bisa naik sampai 25.000-30.000 tanpa adanya
kondisi patologis jika wanita tersebut
mengalami persalinan lama. Jumlah hemoglobin, hematokrit, dan
eritrosit akan sangat bervariasi pada awal-awal masa postpartum sebagai akibat
dari volume darah.
i) Sistem
pencernaan pada
masa nifas
1) Nafsu
makan
Ibu biasanya merasa lapar
segera setelah melahirkan sehingga ia boleh mengkonsumsi makanan ringan. Ibu sering kali
cepat lapar setelah melahirkan dan siap makan pada 1-2 jam post-primordial, dan
dapat ditoleransi dengan diet yang ringan. Setelah benar-benar pulih dari efek
analgesia, anastesia, dan keletihan, kebanyakan ibu merasa sangat lapar.
Permintaan untuk memperoleh makanan dua kali dari jumlah yang biasa dikonsumsi
disertai konsumsi camilan yang sering ditemukan.
2) Motilitas
Secara khas, penurunan
tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat
setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat
pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal.
3) Pengosongan
usus
Sistem pencernaan pada
masa nifas membutuhkan waktu yang berangsur-angsur untuk kembali normal. Pola
makan ibu nifas tidak akan seperti biasa dalam beberapa hari dan perineum ibu
akan terasa sakit untuk defekasi.
b) Perubahan
Sistem perkemihan
Sesuai dengan adanya peningkatan
sirkulasi darah selama hamil, maka laju filtrasi glomerulus pada ginjal juga
meningkat, sehingga produksi urin meningkat. Kondisi hiperfiltrasi dibutuhkan
hingga beberapa hari pascasalin untuk mengeluarkan kelebihan cairan
intravascular akibat redistribusi cairan dari ekstravaskular ke intravascular
dalam tubuh ibu. Volume dan frekuensi berkemih diharapkan kembali dalam keadaan
sebelum hamil dalam 2 minggu saja.
4)
Adaptasi
psikologi ibu dalam masa nifas
a)
Adaptasi psikologis ibu masa nifas
(1)
Fase taking in
Fase taking in yaitu periode
ketergantunga yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat itu, fokus perhatian ibu terutama
pada dirinya sendiri. Pengalaman selama proses persalinan berulang kali
diceritakan. Hal ini membuat ibu cenderung menjadi pasif terhadap lingkuangannya
(2)
Fase letting hold
Fase letting hold adalah
fase/periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase
ini, ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya
dalam merawat bayi. Ibu memiliki perasaan yang sangat sensitif sehingga mudah
tersinggung dan gampang marah sehingga kita perlu berhati-hati dalam
berkomunikasi dengan ibu.
(3)
Fase letting go
Fase letting go merupakan
fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung sepuluh hari
setelah melahirkan. Ibu sudah dapat menyesuaikan diri, merawat diri dan
bayinya, serta kepercayaan dirinya sudah meningkat. (Dewi,2014, h. 65-66)
b) Postpartum
blues
Postpartum blues
atau sering juga disebut maternity blues
atau sindrom ibu baru, dimengerti sebagai suatu sindrom gangguan efek ringan
pada minggu pertama setelah persalinan dengan ditandai gejala-gejala berikut
ini :
1)
Reaksi
depresi/sedih/disforia.
2)
Sering menangis.
3)
Mudah tersinggung.
4)
Cemas.
5)
Labilitas perasaan.
6)
Cenderung menyalahkan
diri sendiri.
7)
Gangguan tidur dan
gangguan nafsu makan.
8)
Kelelahan.
9)
Mudah lelah.
10) Cepat
marah.
11) Mood
mudah berubah, cepat menjadi sedih, daan cepat pula menjadi gembira.
12) Perasaan
terjebak dan juga marah terhadap pasangannya, serta bayinya.
13) Perasaan
bersalah.
14) Pelupa.
c) Kesedihan
dan dukacita/depresi
Penyebab depresi
terjadi karena reaksi terhadap rasa sakit yang muncul saat melahirkan dank
arena sebab-sebab yang kompleks lainnya. Beberapa gejala-gejala depresi berat
adalah sebagai berikut :
1) Perubahan
pada mood.
2) Gangguan
pada pola tidur dan pola makan.
3) Perubahan
mental dan libido.
Dapat pula muncul
fobia, serta ketakutan akan menyakiti dirinya sendiri dan bayinya.
5)
Kebutuhan
dasar ibu masa nifas
a)
Nutrisi dan cairan
Ibu
nifas membutuhkan nutrisi yang cukup, gizi seimbang, terutama kebutuhan protein
dan karbohidrat.
(1)
Kebutuhan kalori selama
menyusui proporsional dengan jumlah air susu ibu yang dihasilkan dan lebih
tinggi selama menyusui disbanding selama hamil. Rata-rata ibu menggunakan
kira-kira 640 kal/hari untuk 6 bulan pertama dan 510 kal/hari selama 6 bulan
kedua untuk menghasilkan jumlah susu normal. Rata-rata ibu harus mengonsumsi
2.300-2.700 kal ketika menyusui.
(2)
Ibu memerlukan tambahan
20 gr protein diatas kebutuhan normal ketika menyusui. Jumlah ini hanyan 60%
dari tambahan 500 kal yang di anjurkan.
Menurut Masmuni
Wahda Aisya pada tahun 2018, Faktor
gizi utama protein akan sangat berpengaruh terhadap proses penyembuhan luka
perineum karena pergantian jaringan sangat membutuhkan protein yang berfungsi
sebagai zat pembangun sel-sel yang telah rusak. Peningkatan kebutuhan protein
diperlukan untuk proses inflamasi, imun dan perkembangan jaringan granulasi.
Protein utama yang disintesis selama fase penyembuhan luka adalah kolagen.
Kekuatan kolagen menentukan kekuatan kulit luka seusai sembuh. Kekurangan
intake protein saat proses penyembuhan luka, secara signifikan menunda
penyembuhan luka. Salah satu sumber makanan yang kaya akan protein adalah putih
telur. Putih telur mengandung protein yang sangat tinggi, mutu protein, nilai
cerna dan mutu cerna paling baik dibandingkan dengan protein hewan lainnya.
Protein putih telur kaya akan nutrisi diantaranya protein niacin, riboflavin,
klorin, magnesium, kalium, sodium, ovalbumin dan mempunyai nilai biologis
tinggi karena mengandung asam amino lengkap dibanding protein hewan lainnya.
Dapat dilihat bahwa terdapat
perbandingan yang jauh antara penyembuhan luka perineum yang diberikan putih
telur memiliki luka cepat kering dan jaringan menutup pada hari keempat dan
penyembuhan luka perineum yang tidak diberikan putih telur memiliki penyembuhan
lambat dimana pada hari ketiga luka masih basah dan belum kering. Responden
yang mengkonsumsi putih telur memiliki berpengaruh dalam penyembuhan luka
perineum. Hal ini tidak lepas dari tanggung jawab dan peranan bidan dalam
memberikan pelayanan yang maksimal khusunya penyembuhan luka perineum dengan
memberikan penyuluhan tentang pentingnya nutrisi bagi penyembuhan luka
perineum.
(3)
Nutrisi lain yang
dipeerlukan selama laktasi adalah asupan
cairan. Ibu menyusui dianjurkan minum 2-3 liter per hari dalam bentuk air
putih, susu, dan jus buah (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui).
(4)
Pil zat besi (Fe) harus
diminum, untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pascabersalin.
(5)
Minum kapsul vitamin A
(200.000 unit) sebanyak 2 kali yaitu 1 jam setelah melahirkan dan 24 jam
setelahnya agar dapat memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI.
b) Ambulasi
Pada
masa lampau, perawatan puerperium sangat konservatif, dimana puerperal harus
tidur terlentang selama 40 hari. Kini perawatan puerperium lebih aktif dengan
dianjurkan untuk melakukan mobilisasi dini.
c) Eliminasi
a) Buang
air kecil (BAK)
Miksi
disebut normal bila dapat BAK spontan tiap 3-4 jam.
b) Buang
air besar (BAB)
Defekasi
(buang air besar) harus ada dalam 3 hari postpartum.
d) Kebersihan
diri dan perineum
Bila sudah buang air
besar atau buang air kecil, perineum harus dibersihkan secara rutin.
Menurut
Enny
Yuliaswati pada tahun 2018 Daun
sirih merupakan tanaman yang mempunyai efek terapi. Daun sirih mengandung
minyak astiri, hidroksikavicol, kavicol, kavibetol, allypyrokatekol, cineole,
caryophyllene, cadinene, estragol, terpennena, seskuiterpena, fenil propane,
tannin, diastase, arecoline. Kandungan – kandungan daun sirih tersebut seperti
kavicol, minyak atsiri bersifat anti jamur dan anti bakteri. Diantara kandungan
tersebut sirih juga mempunyai efek antibiotic, arecoline bermanfaat untuk
merangsang saraf pusat untuk meningkatkan gerakan peristaltic sehingga
sirkulasi darah pada luka menjadi lancar, oksigenluka perineumnya dibandingkan
dengan responden yang tidak memakai air rebusan daun sirih. Berdasarkan
analisis yang dilakukan diperoleh hasil terdapat perbedaan yang signifikan lama
penyembuhan luka perimium antara kelompok eksperimen dan kontrol.
pemberian
kompres dan obat komplementer dianggap bermanfaat untuk penyembuhan luka
perineum. Endapan rebusan daun sirih hijau dapat digunakan sebagai obat kompres
dan obat komplementer. Endapan rebusan air daun sirih bisa digunakan ibu yang
mengalami luka perineum dengan cara dioles pada daerah luka setiap selesai
cebok. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Damarini et al tahun 2012 dengan
tujuan untuk menilai efektifitas daun sirih dalam mengobati luka diperoleh
hasil pada kelompok perlakuan rata-rata hari perawatan luka perineum dibutuhkan
waktu sekitar 3 hari lebih pendek dibanding kelompok control yang membutuhkan
waktu minimal 5 hari.
e) Istirahat
Anjurkan
pada ibu beristirahat yang cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan, dan
sarankan ia untuk kembali ke kegiatan-kegiatan yang tidak berat.
f) Seksual
Dinding
vagina kembali pada keadaan sebelum
hamil dalam waktu 6-8 minggu. Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami
istri begitu darah merah berhenti, dan ibu dapat memasukkan 1 atau 2 jari ke
dalam vagina tanpa rasa nyeri.
g) Senam
nifas
Senam
nifas adalah senam yang dilakukan ibu-ibu setelah melahirkan setelah keadaan
tubuhnya pulih kembali. Senam nifass bertujuan untuk mempercepat penyembuhan,
mencegah timbulnya komplikasi, serta memulihkan dan menguatkan otot-otot
punggung, otot dasar panggul dan otot perut. (Dewi,2014,
h.55-81)
b.
KB
1) Definisi
KB
Keluarga
berencana merupakan suatu usaha menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak
kehamilan dengan menggunakan kontrasepsi.
a)
Tujuan program KB
Tujuan umumnya adalah membentuk keluarga
kecil sesuai dengan kekuatan sosial eekonomi suatu keluarga, dengan cara
pengaturan kelahiran anak agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera
yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
b)
Sasaran KB
Sasaran KB tertuang dalam RPJMN 2004-2009
yang meliputi :
1)
Menurunnya rata-rata
lalu pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 1,14% per tahun.
2)
Menurunnya angka
kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2 per perempuan .
3)
Menurunya PUS yang
tidak ingin punya anak lagi dan ingin menjarangkan kelahiran berikutnya, tetapi
tidak memakai alat/cara kontrasepsi (unmet
need) menjadi 6%.
4)
Meningkatnya peserta KB
laki-laki menjadi 4,5%.
5)
Meningkatnya penggunaan
metode kontrasepsi yang rasional, efektif, dan efisien.
6)
Meningkatnya rata-rata
usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21 tahun.
7)
Meningkatya partisipasi
keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak.
8)
Meningkatnya jumlah
keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera 1 yang aktif dalam usaha ekonomi
produktif.
9)
Meningkatnya jumlah institusi
masyarakat dalam penyelenggara pelayanan Program KB Nasional.
c)
Ruang lingkup program
KB
Ruang
lingkup program KB mencakup sebagai berikut :
1)
Ibu
Dengan
jalan mengatur jumlah dan jarak kelahiran. Adapun manfaat yang diperoleh oleh
ibu adalah sebagai berikut :
a)
Tercegahnya kehamilan
yang berulang kali dalam jangka waktu yang terlalu pendek, sehingga kesehatan
ibu dapat terpelihara terutama kesehatan organ reproduksinya.
b)
Meningkatkan kesehatan
mental dan sosial yang dimungkinkan oleh adanya waktu yang cukup untuk mengasuh
anak-anak dan beristirahat yang cukup karena kehadiran akan anak tersebut
memang diinginkan.
2)
Suami
Dengan
memberikan kesempatan suami agar dapat melakukan hal berikut :
a)
Memperbaiki kesehatan
fisik.
b)
Mengurangi beban
ekonomi keluarga yang ditunggunya.
3)
Seluruh keluarga
Dilaksanakannya
program KB dapat meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan sosial setiap
anggota keluarga; dan bagi anak dapat memperoleh kesempatan yang lebih besar
dalam hal pendidikan serta kasih saying orang tuanya.
d)
Macam-macam kontrasepsi
1) Metode kontrasepsi sederhana tanpa alat
(a)
Suhu basal
Menjelang
ovulasi suhu basal tubuh akan turun dan kurang lebih 24 jam setelah ovulasi
suhu basal akan naik lagi sampai lebih tinggi daripada suhu sebelum ovulasi.
Fenomena ini dapat digunakan untuk menentukan waktu ovulasi. Suhu basal dicatat
dengan teliti setiap hari. Suhu basal diukur waktu pagi segera setelah bangun
tidur dan sebelum melakukan aktivitas.
(b)
Metode kalender
Metode
kalender menggunakan prinsip pantang berkala
yaitu
tidak melakukan persetubuhan pada masa subur istri. Untuk
menentukan masa subur istri diganakan tiga patokan yaitu ovulasi terjadi 14±2
hari sebelum haid yang akan datang, sperma dapat hidup dan membuahi selama 48
jam setelah ejakulasi, dan ovum dapat hidup 24 jam setelah ovulasi.
(c)
Metode lender serviks
Pada
bagan terdapat beberapa hari setelah menstruasi dimana wanita memiliki pola
kering pada vulva yang tidak berubah. Beberapa wanita dapat memperlihatkan
adanya rabas tetapi biasanya karakteristik sama dari hari ke hari. Keadaan ini
dikenal sebagai pola infertil dasar (masa tidak subur).
(d)
Koitus interuptus
Cara
kerjanya yaitu alat kelamin pria (penis) dikeluarkan sebelum ejakulasi sehingga
sperma tidak masuk ke dalam vagina dan kehamilan dapat dicegah.
2) Metode kontrasepsi sederhana dengan alat
a)
Kondom
Kondom
yaitu untuk menghalangi masuknya sperma ke
dalam vagina, sehingga pembuahan dapat dicegah, selain itu kondom juga dapat mencegah penularan
HIV/AIDS dan mengurangi risiko
penyakit menular seksual.
b)
Barier intravagina
Kondom untuk wanita tidak hanya berfungsi
mencegah kehamilan, tetapi juga merupakan alat yang efektif melawan HIV,
gonore, klamidia, dan trikomoniasis; apabila digunakan dengan benar.
c) Spermisida
Spermisida adalah bahan kimia yang
digunakan untuk menonaktifkan atau membunuh sperma. Dikemas dalam bentuk
aerosol (busa), tablet vaginal,. Supositoria, atau krim.
3) Metode kontrasepsi hormonal
a)
Kontrasepsi Oral
(1)
Cara kerja
(a)
Menahan ovulasi.
(b)
Mencegan implantasi.
(c)
Lender serviks
mengental sehingga sulit dilalui oleh sperma.
(d)
Pergerakan tuba
terganggu sehingga transportasi telur dengan sendirinya akan terganggu pula.
(2)
Keuntungan
(a)
Memiliki efektivitas
yang tinggi.
(b)
Risiko terhadap
kesehatan sangat kecil.
(c)
Tidak mengganggu
hubungan seksual.
(d)
Siklus haid menjadi
teratur, jumlah darah haid berkurang, dan tidak terjadi nyeri haid.
(e)
Dapat digunakan jangka
panjang selama masih ingin menggunakannya untuk mencegah kehamilan.
(f)
Dapat digunakan sejak
usia remaja hingga menopause.
(g)
Mudah dihentikan setiap
saat.
(h)
Kesuburan segera kembali
setelah penggunaan pil dihentikan.
(i)
Dapat digunakan sebagai
kontrasepsi darurat.
(3)
Keterbatasan
(1)
Mahal dan membosankan
karena harus menggunakannya setiap hari.
(2)
Mual, terutama pada
tiga bulan pertama.
(3)
Perdarahan bercak atau
perdarahan sela.
(4)
Pusing.
(5)
Nyeri payudara.
(6)
Berhenti haid.
b)
Suntik
(1)
Cara kerja
(a)
Mecegah ovulasi
(b)
Mengentalkan lendir
serviks dan menjadi sedikit sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma .
(c)
Menjadikan selaput
lendir rahim tipis dan atropi
(d)
Menghambat transportasi
gamet dan tuba
(e)
Mengubah endoetrium
menjadi tidak sempurna untuk implantasi hasil konsepsi
(2)
Keuntungan atau
kelebihan
(a)
Sangat efektif
(b)
Pencegahan kehamilan
jangka panjang
(c)
Tidak memiliki pengaruh
pada ASI
(d)
Klien tidak perlu
menyimpan obat suntik
(e)
Dapat digunakan oleh
perempuan usia > 35 tahun sampai per imenopause
(f)
Membantu mencegah
kanker endometrium dan kehamilan ektopik
(g)
Menurunkan kejadian
penyakit jinak payudara
(h)
Menurunkan krisis
anemia bulan sabit (sickle cell)
(i)
Mencegah beberapa
penyebab penyakit radang paggul
(3)
Kerugian
(a)
Gangguan haid seperti
siklus haid memendek atau memanjang, perdarahan
(b)
Tidak dapat dihentikkan
sewaktu-waktu
(c)
Sering menimbulkan efek
samping masalah berat badan
(d)
Terlambatnya kembali
kesuburan setelah penghentiam pemakaian
(e)
Terjadi perubahan pada
lipid serum pada penggunaan jangka panjang
(f)
Pada penggunaan jangka
panjang dapat menurunkan kepadatan tulang (densitas)
(g)
Pada penggunaan jangka
panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan libido, gangguan
emosi (jarang), sakit kepala, nervositas, dan jerawat.
c)
Implan
1) Cara kerja
(a) Lendir serviks menjadi kental
(b) Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit
terjadi implantasi
(c) Mengurangi transportasi sperma
(d) Menekan ovulasi
2) Keuntungan
(a) Daya guna tinggi
(b) Perlindungan jangka panjang (sampai 5 tahun)
(c) Pengembalian kesuburan yang cepat
(d) Tidak memerlukan pemeriksaan dalam
(e) Bebas dari pengaruh estrogen
(f) Tidak mengganggu kegiatan senggama
(g) Tidak mengganggu ASI
(h) Mengurangi/memperbaiki anemia
(i) Klien hanya kembali ke klinik bila ada keluhan
(j) Dapat dicabut setiap saat
(k) Mengurangi jumlah darah haid
3) Kerugian
(a) Nyeri kepala
(b) Peningkatan/penurunan berat badan
(c) Nyeri
payudara
(d) Perubahan perasaan (mood) atau
kegelisahan (nervousness)
(e) Membutuhkan tindak pembedahan minor untuk insersi dan
pencabutan
(f) Tidak memberikan efek protektif terhadap infeksi menular
seksual termasuk AIDS
(g) Klien tidak dapat menghentikan sendiri peakaian kontrasepsi
(h) Efektivitas menurun bila menggunkan obat-obatan
tuberculosis (rifampisin) atau epilepsy (fenitoin dan barbiturat).
d) Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR)
1) Keuntungan
(a) Efektivitas tinggi
(0,68-0,8 kehamilan/100 kehamilan
dalam 1 tahun pertama,
1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan.
(b) Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A
dan tidak perlu diganti).
(c) Tidak mempengaruhi hubungan seksual.
(d) Tidak mempengaruhi produksi ASI.
(e) Dapat dipasang segera setelah melahitkan atau sesudah
abortus (apabila tidak terjadi infeksi).
(f) Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih
setelah haid terakhir).
(g) Tidak ada interaksi dengan obat-obatan.
(h) Reversibel.
(i) Dapat
dipakai oleh semua perempuan usia reproduksi.
2) Keterbatasan
(a) Efek
samping yang umum terjadi, perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama
dan akan berkurang setelah 3 bulan), haid lebih lama dan banyak, perdarahan
spotting antarmenstruasi, saat haid lebih sakit.
(b) Komplikasi
lain : merassakan sakit dan kejang selama 3-5 hari setelah pemasangan, perforasi
dinding uterus, perdarahan berat pada waktu haid yang memungkinkan penyebab
anemia.
(c) Tidak
mencegah IMS termasuk HIV/AIDS.
(d) Tidak
baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering gonta-ganti
pasangan. (Sulistyawati,2014, h:49-82)
B. Standar Asuhan
Kebidanan
Standar
asuhan kebidanan yang diberikan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No. 938/MENKES/SK/VIII/2007 tentang standar Asuhan Kebidanan.
1.
Pengertian
standar Asuhan Kebidanan
Standar
asuhan kebidanan adalah acuan dalam proses pengambilan keputusan dan tindakan
yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya
berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan, mulai dari pengkajian, perumusan diagnosa
dan /atau masalah kebidanan, perencanaan, implementasi, evaluasi dan pencatatan
asuhan kebidanan.
a.
STANDAR
I: Pengkajian
1) Pernyataan
standar
Bidan
mengumpulkan semua informasi yang akurat, relevan dan lengkap dari semua sumber
yang berkaitan dengan kondisi klien.
2) kriteria
pengkajian
a) Data
tepat, akurat dan lengkap.
b) Terdiri
dari data Subjektif hasil Anamnesa: biodata, keluhan utama, riwayat obstetri,
riwayat kesehatan, dan latar belakang sosial budaya.
c) Data
objektif (hasil pemeriksaan fisik, psikologis dan pemeriksaan penunjang.
b.
STANDAR
II: Perumusan Diagnosa dan/atau masalah kebidanan
1) Pernyataan
standar
Bidan
menganalisa data yang diperoleh pada pengkajian, menginterpretasikannya secara
akurat dan logis untuk menegakan diagnose dan masalah kebidanan yang
tepat.
2) Kriteria
perumusan Diagnosa dan/atau Masalah
a) Diagnosa
sesuai dengan nomenklatur kebidanan.
b) Masalah
dirumuskan sesuai dengan kondisi klien.
c) Dapat
diselesaikan dengan Asuhan Kebidanan secara mandiri, kolaborasi, dan rujukan.
c.
STANDAR
III: Perencanaan
1) Pernyataan
standar
Bidan
merencanakan asuhan kebidanan berdasarkan diagnosa dan masalah yang ditegakkan.
2) Kriteria
perencanaan
a) Rencana
tindakan disusun berdasarkan prioritas masalah dan kondisi klien: tindakan
segera, tindakan antisipasi, dan asuhan secara komprehensif.
b) Melibatkan
klien / pasien dan/atau keluarga.
c) Mempertimbangkan
kondisi psikologi, sosial budaya klien / keluarga.
d) Memilih
tindakan yang aman sesuai kondisi dan kebutuhan klien berdasarkan evidence
based dan memastikan bahwa asuhan yang diberikan bermanfaat untuk klien.
e) Memepertimbangkan
kebijakan dan peraturan yang berlaku, sumber daya serta fasilitas yang ada.
d.
STANDAR
IV: Impelementasi
1) Pernyataan
standar
Bidan
melaksanakan rencana asuhan kebidanan secara komprehensif, efektif, efisien dan
aman berdasarkan evidence based kepada klien/pasien, bentuk upaya promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Dilaksanakan secara mandiri, kolaborasi
dan rujukan.
2) Kriteria
a) Memperhatikan
keunikan klien sebagai mahluk bio-psiko-sosial-spiritual-kultura.
b) Setiap
tindakan asuhan harus mendapatkan persetujuan dari klien dan/atau keluarganya (inform consent).
c) Melaksanakan
tindakan asuhan berdasarkan evidence based.
d) Melibatkan
klien/pasien dalam setiap tindakan.
e) Menjaga
privasi klien/pasien.
f) Melaksanakan
prinsip pencegahan infeksi.
g) Mengikuti
perkembangan kondisi klien secara berkesinambungan
h) Menggunakan
sumber daya, sarana dan fasilitas yang ada dan sesuai.
i) Melakukan
tindakan sesuai standar.
j) Mencatat
semua tindakan yang telah dilakukan.
e.
STANDAR
V: Evaluasi
1) Pernyataan
standar
Bidan
melakukan evaluasi secara sistematis dan berkesinambungan untuk melihat
keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan, sesuai dengan perubahan
perkembangan kondisi klien.
2) Kriteria
Evaluasi
a) Penilaian
dilakukan segera setelah selesai melaksanakan asuhan sesuai kondisi klien.
b) Hasil
evalusi segera dicatat dan dikomunikasikan pada klien dan/keluarga.
c) Evaluasi
dilakukan sesuai dengan stndar.
d) Hasil
evaluasi ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi klien/pasien.
f.
STANDAR
VI: Pencatatan Asuhan Kebidanan
1) Pernyataan
standar
Bidan
melakukan pencatatan secara lengkap, akurat, singkat dan jelas mengenai keadaan
/ kejadian yang ditemukan dan dilakukan dalam memberikan asuhan kebidanan.
2) Kriteria
pencatatan Asuhan Kebidanan
a) Pencatatan
dilakukan segera setelah melaksanakan asuhan pada formulir yang tersedia (Rekam
Medis/KMSI Status pasien/buku KIA)
b) Ditulis
dalam bentuk catatan perkembangan SOAP.
c) S
adala data subjektif, mencatat hasil anamnesa.
d) O
adalah data objektif, mencatat hasl pemeriksaan.
e) A
adalah hasil analisa, mencatat diagnosa dan masalah kebidanan.
P
adalah penatalaksanaan, mencatat seluruh perencanaan dan penatalaksanaan yang
sudah dilakukan seperti tindakan antisipatif, tindakan segera, tindakan
secara komprehensif, penyuluhan,
dukungan, kolaborasi, evaluasi / follow
up dan rujukan. (Susanti, 2015,
h. 168-172).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar