Minggu, 01 Desember 2019

BAB II Part 2


1)         Waktu perawatan perineum
Waktu perawatan perineum yakni :
a)      Saat mandi : pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas pembalut, setelah terbuka maka ada kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri pada cairan yang tertampung pada pembalut, untuk itu maka perlu dilakukan penggantian pembalut, demikian pula pada perineum ibu, untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
b)      Setelah buang air kecil : pada saat buang air kecil, pada saat buang air kecil kemungkinan besar terjadi kontaminasi air seni pada rectum akibatnya dapat memicu pertumbuhan bakteri pada perineum untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
c)      Setelah buang air besar : pada saat buang air besar, diperlukan pembersihan sisa-sisa kotoran disekitar anus, untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri dari anus ke perineum yang letaknya bersebelahan maka diperlukan proses pembersihan anus dan perineum secara keseluruhan.
2)         Dampak perawatan luka perineum
Perawatan perineum yang dilakukan dengan baik dapat menghindarkan hal berikut ini :
a)      Infeksi : Kondisi perineum yang terkena lokia dan lembab akan sangat menunjang perkembangbiakan bakteri yang dapat menyebabkan timbulnya infeksi pada perineum.
b)      Komplikasi : Munculnya infeksi pada perineum dapat merambat pada saluran kandung kemih ataupun pada jalan lahir yang dapat berakibat pada munculnya komplikasi infeksi.
c)      Kematian ibu post partum : Penanganan komplikasi yang lambat menyebabkan terjadinya kematian pada ibu post partum mengingat kondisi fisik ibu post partum masih lemah.
3)         Fase-fase penyembuhan luka
a)      Fase inflamasi, berlangsung selama 1 sampai 4 hari. Ketika mikrosirkulasi mengalami kerusakan, elemen darah seperti antibody, plasma protein, elektrolit, komplemen, dan air menembus spasium vascular selama 2 sampai 3 hari, menyebabkan edema, teraba hangat, kemerahan dan nyeri.
b)      Fase proliferatif, berlangsung 5 sampai 20 hari.
Fibroblas memperbanyak diri dan membentuk jaringan-jaringan untuk sel-sel yang bermigrasi. Sel-sel epitel membentuk kuncup pada pinggiran luka,kuncup ini berkembang menjadi kapiler, yang merupakan sumber nutrisi bagi jaringan granulasi yang baru.
c)      Fase maturasi, berlangsung 21 hari sampai sebulan atau bahkan tahunan.
Sekitar 3 minggu setelah cedera, fibroblast mulai meninggalkan luka.Jaringan parut tampak besar, sampai fibril kolagen menyusun kedalam posisi yang lebih padat.Hal ini, sejalan dengan dehidrasi, mengurangi jaringan parut tetapi meningkatkan kekuatannya. Maturasi jaringan seperti ini terus berlanjut dan mencapai kekuatan maksimum dalam 10 atau 12 minggu, tetapi tidak pernah mencapai kekuatan asalnya dari jaringan sebelum luka.
4)         Penatalaksanaan
a)      Persiapan pada ibu post partum : perawatan perineum sebaikanya dilakukan dikamar mandi dengan posisi ibu jongkok jika ibu telah mampu atau berdiri dengan posisi kaki terbuka.
b)      Penatalaksanaan yang diberikan pada ibu adalah: Perawatan khusus perineal bagi wanita setelah melahirkan anak mengurangi rasa ketidaknyamanan, kebersihan, mencegah infeksi, dan meningkatkan penyembuhan dengan prosedur pelaksanaan sebagai berikut : mencuci tangannya, mengisi botol plastik yang dimiliki dengan air hangat, buang pembalut yang penuh dengan gerakan kebawah mengarah ke rektum dan letakkan pembalut tersebut kedalam kantung plastic, berkemih dan BAB ke toilet, keringkan perineum dengan menggunakan tissue dari depan ke belakang, pasang pembalut dai depan ke belakang, cuci kembali tangan.
Lakukan evaluasi, parameter yang digunakan dalam evaluasi hasil perawatan adalah : Perineum tidak lembab, posisi pembalut tepat, ibu merasa nyaman.
c)      Efektivitas Senam Kegel Terhadap Waktu Penyembuhan Luka Perineum Pada Ibu Post Partum Normal
Menurut Ari Antini pada tahun 2016 pengaruh senam kegel terhadap percepatan penyembuhan luka perineum disebabkan karena kontraksi otot-otot pubococcygeal mempengaruhi sirkulasi oksigenisasi dan memperlancar peredaran darah sehingga membuat tumbuhnya jaringan baru untuk merapatkan luka jahitan (mempercepat fase proliferatif).
Rata-rata lama waktu penyembuhan luka perineum pada kelompok senam kegel adalah 6 hari dengan batasan minimal 5 hari dan maksimal 7 hari lebih cepat dibandingkan pada kelompok mobilisasi dengan rata-rata jumlah hari adalah 7 hari, dengan batasan minimal 4 hari dan maksimal 9 hari.


d)     Efektivitas Sirih Merah Dalam Perawatan Luka Perineum Di Bidan Praktik Mandiri
Menurut Susilo Damarini pada tahun 2014 Sediaan gel ekstrak daun sirih mempunyai daya antiseptik. Sediaan gel dengan kadar ekstrak daun sirih mulai 15% mempunyai kemampuan menurunkan mikroorganisme di telapak tangan sampai 57%, sedangkan kadar ekstrak 25% mampu menghilangkan semua mikroorganisme. Daya antiseptik sediaan gel ekstrak daun sirih dengan kadar 15% mempunyai daya antiseptik sama dengan sediaan gel etanol, sedangkan sediaan gel ekstrak daun sirih dengan kadar 20%. dan 25% mempunyai daya antiseptik sama dengan sediaan gel triklosan. Selanjutnya didukung teori yang mengatakan tentang khasiat daun sirih merah ini digunakan untuk mengurangi keputihan dan menjaga organ kewanitaan karena salah satu khasiat dari sirih merah adalah sebagai antiseptik, yaitu dengan merebus 7-10 lembar daun sirih merah, lalu menggunakan air rebusan tersebut untuk membilas organ kewanitaan. Daun sirih tergolong tanaman yang mempunyai banyak efek terapi. Di antara kandungan daun sirih tersebut adalah minyak atsiri, hidroksikavicol, kavicol, kavibetol, allylpyrokatekol, cyneole, caryophyllene, cadinene, estragol terpennena, seskuiterpena, fenil propana, tanin, diastase, gula, dan pati.
Berdasarkan hasil penelitian tentang efektivitas daun sirih merah dalam perawatan luka perineum dapat disimpulkan bahwa rata-rata lama penyembuhan luka perineum dengan menggunakan infusum daun sirih merah adalah 3-4 hari, sedangkan lama penyembuhan dengan menggunakan iodin rata-rata 5-6 hari. Berarti perawatan luka perineum pada ibu nifas lebih efektif menggunakan infusum sirih merah daripada iodin, karena ratarata lama hari penyembuhan lebih pendek menggunakan infusum sirih merah dari pada menggunakan iodin, walaupun peneliti lain berpendapat bahwa lama penyembuhan luka ada hubungan yang signifikan dengan kadar hemoglobin.10 Infusum daun sirih merah sekaligus menghilangkan bau tidak sedap pada genitalia pada ibu yang mengalami luka perineum postpartum.
e)      Hubungan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka Dengan Lama Penyembuhan Luka Perineum Ibu Nifas
Berdasarkan hasil penelitian Darmawati dan Ia Sastra pada tahun 2014 dapat disimpulkan :
1)      Ada hubungan antara status nutrisi dengan lama penyembuhan luka perineum pada ibu nifas.
2)      Ada hubungan antara istirahat dengan lama penyembuhan luka perineum pada ibu nifas.
3)      Ada hubungan antara stress dengan lama penyembuhan luka perineum pada ibu nifas.
4)      Ada hubungan antara infeksi dengan lama penyembuhan luka perineum pada ibu nifas.
5)      Tidak ada hubungan antara kondisi medis dengan lama penyembuhan luka perineum pada ibu nifas.

1.      Konsep dasar masa nifas
a.      Definisi nifas
Masa nifas adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti prahamil.
1)   Tahapan Masa Nifas
Masa nifas dibagi menjadi tiga tahapan :
a)    Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu diperbolehkan berdiri dan berjalan, serta menjalankan aktivitas layaknya wanita normal lainnya.  
b)   Puerperium intermedial yaitu suatu kepulihan menyeluruh dari organ-organ genetaliayang lamanya sekitar 6-8 minggu
Puerperium Remote yaitu waktu yang diperukan untuk pulih dan sehat sempurna apabila  ibu selama hamil atau persalinan mempunyai  komplikasi.
2)   Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Pada kebijakan program nasional masa nifas paling sedikit 4 kali kunjungan yang dilakukan. Hal ini untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir serta untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani masalah-masalah yang terjadi antara lain sebagai berrikut :
a)    6-8 jam setelah persalinan.
(1)     Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
(2)     Mendeteksi dan merawatan penyebab lain perdarahan, rujuk bila peradaran berlanjut.
(3)     Memberikan konseling kepada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
(4)     Pemberian ASI awal
(5)     Melakukan hubungan  antara ibu dan bayi baru lahir.
(6)     Menjaga bayi tetap sehat dengan cara pencegahan hipotermi.
b)   6 hari setelah persalinan.
(1)     Memastikan involusi uterus berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.
(2)     Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi dan perdarahan abnormal.
(3)     Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan, dan istirahat.
(4)     Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan  tanda-tanda penyulit.
(5)     Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi dan tali pusat, serta menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari. 
c)    2 minggu setelah persalinan
Memastikan rahim sudah kembali normal dengan mengukur dan meraba bagian rahim.
d)   6 minggu setelah persalinan
(1)     Menanyakan pada ibu tentang penyulit-penyulit yang ia atau bayi alami.
(2)     Memberikan konseling untuk KB secara dini. (Dewi, 2014, hal.1-5)
3)   Perubahan fisiologi masa nifas
a)    Perubahan sistem reproduksi
(1)   Uterus
Peroses involusi adalah proses kembalinya uterus kedalam keadaan sebelum hamil setelah melahirkan. Spade minggu keenam, berat menjadi 50-60 gram.
Proses involusi uterus adalah sebagai berikut :
(1) Iskemia Miometrium
Disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus menerus dari uterus setelah pengeluaran plasenta membuat uterus relative anemi dan menyebabkan serat otot atrofi.
(2) Autolisis
Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi didalam otot uterus. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah sempat mengendur hingga  panjangnya 10 kali dari semula dan lebar lima kali dari semula selama kehamilan atau dapat juga dikatakan sebagai perusakan secara langsung jaringan hipertrofi yang berlebihan. Hal ini disebabkan karena penurunan hormone estrogen dan progesteron.
(3) Efek oksitosin
Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterin sehingga akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta serta mengurangi peradarahan.



Tabel 2.3 Involusi uterus
Involusi
TFU
Berat Uterus (gr)
Diameter Uterus (cm)
Keadaan serviks
Bayi  lahir
Setinggi pusat
1000


Uri lahir
2 jari dibawah pusat
750
12,5
Lembek
Satu minggu
Pertengahan pusat-simfisis
500
7,5
Beberapa hari setelah postpartum dapat dilalui 2 jari akhir minggu pertama dapat dimasuki 1 jari
Dua  minggu
Tak teraba di atasi simfisis
350
3 – 4
Enam minggu
Betambah kecil
30 – 60
1 – 2
Delapan minggu
Sebesar normal
30


b)   Involusi tempat plasenta
Setelah persalinan, tempat plasenta merupakan tempat dengan permukaan kasar, tidak rata, dan kira-kira sebesar telapak tangan. Dengan cepat luka ini mengecil, pada akhir minggu ke-2 hanya sebesar 3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm. penyembuhan luka bekas plasenta khas sekali. Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak pembuluh darah besar yang tersumbat oleh trombus.   
c)      Perubahan ligament
Ligamen-ligamen dan diafragma velpis, serta fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan partus, setelah janin lahir, berangsur-angsur menciut kembali seperti sediakala.
d)     Perubahan pada serviks
Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus. Perubahan-perubahan yang terdapat pada serviks postpartum adalah bentuk serviks yang akan menganga seperti corong. Bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi sehingga seolah-olah pada perbatasan antara korpus dan serviks uteri terbentuk semacam cincin.
e)    Lokia
Lokia adalah ekskresi cairan rahim yang selama masa nifas dan mempunyai reaksi basa/alkalis yang dapat membuat organisme berkembang lebih cepat daripada kondisi asam  yang ada pada vagina normal. Lokia mempunyai bau yang amis, meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya berbeda-beda pada setiap wanita. Lochea juga mengalami perubahan karena proses involusi. Pengeluaran lokia dapat dibagi berdasrkan waktu dan warnanya diantaranya sebagai berikut :
(1)   Lokia rubra/merah (kruenta)
Lokia ini muncul pada hari pertama sampai hari ketiga masa postpartum. Sesuai dengan warnanya, warnanya biasanya merah dan mengandung darah dari perobekan/luka pada plasenta dan serabut dari desidua dan chorion.


(2)   Lokia sanguinolenta
Lokia ini berwarna merah kuning berisi darah dan lender karena pengaruh plasma darah, pengeluarannya pada hari ke  3-5 hari postpartum.  
(3)   Lokia serosa
Lokia ini muncul pada hari ke 5-9 postpartum. Warnanya biasanya kekuningan atau kecoklatan. Lokia ini terdiri atas lebih sedikit darah dan lebih banyak serum, juga terdiri atas leukosit dan robekan laserasi plasenta.
(4)   Lokia alba
Lokia ini muncul lebih dari hari ke-10 postpartum. Warnanya lebih pucat, putih kekuningan, serta lebih banyak mengandung leukosit, selaput lender serviks, dan serabut jaringan yang mati.
f)    Perubahan pada vagina dan perineum
Estrogen pascapartum yang menurun berperan dalam penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. Vagina yang semula sangat teregang akan kembali secara bertahap pada ukuran sebelum hamil selama 6-8 minggu setelah bayi lahir. Regae akan kembali terlihat sekitar minggu keempat, walaupun tidak akan menonjol pada wanita multipara. Pada umumnya rugae akan memipih secara permanen. Mukosa tetap atrofik pada wanita yang menyusui sekurang-kurangnya sampai menstruasi dimulai kembali. Penebalan mukosa vagina terjadi seiring pemulihan fungsi ovarium.
g)   Perubahan tanda-tanda vital
(1)     Suhu badan
       Satu hari (24 jam) postpartum suhu bdan akan naik sedikit (37,5-380C) sebagai akibat kerja keras waktu melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan.
(2)     Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 x/menit. Sehabis melahirkan biasanya denyut nadi itu akan lebih cepat.
(3)     Tekanan darah
       Biasanya tidak berubah, kemungkinan tekanan darah akan rendah setelah melahirkan karena ada pendarahan. Tekanan darah tinggi pada postpartum dapat menandakan terjadinya preeklamsia postpartum.
(4)     Pernapasan
       Keadaan pernapasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu tidak normal, pernapasanjuga akan mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan khusus pada saluran napas.


h)   Perubahan sistem kardiovaskular
1)      Volume darah
Perubahan volume darah bergantung pada beberapa faktor, misalnya kehilangan darah selama melahirkan dan mobilisasi, serta pengeluaran cairan ekstravaskular (edema fisiologis). Kehilangan darah merupakan akibat penurunan volume darah total yang cepat, tetapi terbatas. Setelah itu terjadi perpindahan normal cairan tubuh yang menyebabkan volume darah menurun dengan lambat. Pada minggu ke-3 dan ke-4 setelah bayi lahir, volume darah biasanya menurun sampai mencapai volume darah sebelum hamil. Pad persalinan per vaginam, ibu kehilangan darah sekitar 300-400 cc.
2)      Curah jantung
Denyut jantung, volume sekuncup, dan curah jantung meningkat sepanjang masa hamil. Segera setelah wanita melahirkan, keadaan ini meningkat bahkan lebih tinggi selama 30-6- menit karena darah yang biasanya melintasi sirkulasi uteroplasenta tiba-tiba kembali ke sirkulasi umum. Nilai ini meningkat pada semua jenis kelahiran.
c) Peruban sistem hematologi
Leukositosis yang meningkat dimana jumlah sel darah putih dapat mencapai 15.000 selama persalinan akan tetap tinggi dalam beberapa hari pertama postpartum. Jumlah sel darah putih tersebut masih bisa naik sampai 25.000-30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut  mengalami persalinan lama. Jumlah hemoglobin, hematokrit, dan eritrosit akan sangat bervariasi pada awal-awal masa postpartum sebagai akibat dari volume darah.  
i)     Sistem pencernaan pada masa nifas
1)      Nafsu makan
Ibu biasanya merasa lapar segera setelah melahirkan sehingga ia boleh mengkonsumsi makanan ringan. Ibu sering kali cepat lapar setelah melahirkan dan siap makan pada 1-2 jam post-primordial, dan dapat ditoleransi dengan diet yang ringan. Setelah benar-benar pulih dari efek analgesia, anastesia, dan keletihan, kebanyakan ibu merasa sangat lapar. Permintaan untuk memperoleh makanan dua kali dari jumlah yang biasa dikonsumsi disertai konsumsi camilan yang sering ditemukan.
2)      Motilitas
Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama waktu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anastesia bisa memperlambat pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal.
3)      Pengosongan usus
Sistem pencernaan pada masa nifas membutuhkan waktu yang berangsur-angsur untuk kembali normal. Pola makan ibu nifas tidak akan seperti biasa dalam beberapa hari dan perineum ibu akan terasa sakit untuk defekasi.
b)   Perubahan Sistem perkemihan
Sesuai dengan adanya peningkatan sirkulasi darah selama hamil, maka laju filtrasi glomerulus pada ginjal juga meningkat, sehingga produksi urin meningkat. Kondisi hiperfiltrasi dibutuhkan hingga beberapa hari pascasalin untuk mengeluarkan kelebihan cairan intravascular akibat redistribusi cairan dari ekstravaskular ke intravascular dalam tubuh ibu. Volume dan frekuensi berkemih diharapkan kembali dalam keadaan sebelum hamil dalam 2 minggu saja.

4)        Adaptasi psikologi ibu dalam masa nifas
a)   Adaptasi psikologis ibu masa nifas
(1)      Fase taking in
                    Fase taking in yaitu periode ketergantunga yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan.  Pada saat itu, fokus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. Pengalaman selama proses persalinan berulang kali diceritakan. Hal ini membuat ibu cenderung menjadi pasif terhadap lingkuangannya
(2)      Fase letting hold
                    Fase letting hold adalah fase/periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase ini, ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Ibu memiliki perasaan yang sangat sensitif sehingga mudah tersinggung dan gampang marah sehingga kita perlu berhati-hati dalam berkomunikasi dengan ibu.
(3)      Fase letting go
                    Fase letting go merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu sudah dapat menyesuaikan diri, merawat diri dan bayinya, serta kepercayaan dirinya sudah meningkat. (Dewi,2014, h. 65-66)
b)   Postpartum blues
Postpartum blues atau sering juga disebut maternity blues atau sindrom ibu baru, dimengerti sebagai suatu sindrom gangguan efek ringan pada minggu pertama setelah persalinan dengan ditandai gejala-gejala berikut ini :
1)         Reaksi depresi/sedih/disforia.
2)         Sering menangis.
3)         Mudah tersinggung.
4)         Cemas.
5)         Labilitas perasaan.
6)         Cenderung menyalahkan diri sendiri.
7)         Gangguan tidur dan gangguan nafsu makan.
8)         Kelelahan.
9)         Mudah lelah.
10)     Cepat marah.
11)     Mood mudah berubah, cepat menjadi sedih, daan cepat pula            menjadi gembira.
12)     Perasaan terjebak dan juga marah terhadap pasangannya, serta         bayinya.
13)     Perasaan bersalah.
14)     Pelupa.
c)   Kesedihan dan dukacita/depresi
Penyebab depresi terjadi karena reaksi terhadap rasa sakit yang muncul saat melahirkan dank arena sebab-sebab yang kompleks lainnya. Beberapa gejala-gejala depresi berat adalah sebagai berikut :
1)   Perubahan pada mood.
2)   Gangguan pada pola tidur dan pola makan.
3)   Perubahan mental dan libido.
Dapat pula muncul fobia, serta ketakutan akan menyakiti dirinya sendiri dan bayinya.
5)        Kebutuhan dasar ibu masa nifas
a)   Nutrisi dan cairan
Ibu nifas membutuhkan nutrisi yang cukup, gizi seimbang, terutama kebutuhan protein dan karbohidrat.
(1)   Kebutuhan kalori selama menyusui proporsional dengan jumlah air susu ibu yang dihasilkan dan lebih tinggi selama menyusui disbanding selama hamil. Rata-rata ibu menggunakan kira-kira 640 kal/hari untuk 6 bulan pertama dan 510 kal/hari selama 6 bulan kedua untuk menghasilkan jumlah susu normal. Rata-rata ibu harus mengonsumsi 2.300-2.700 kal ketika menyusui.
(2)   Ibu memerlukan tambahan 20 gr protein diatas kebutuhan normal ketika menyusui. Jumlah ini hanyan 60% dari tambahan 500 kal yang di anjurkan.
Menurut Masmuni Wahda Aisya pada tahun 2018, Faktor gizi utama protein akan sangat berpengaruh terhadap proses penyembuhan luka perineum karena pergantian jaringan sangat membutuhkan protein yang berfungsi sebagai zat pembangun sel-sel yang telah rusak. Peningkatan kebutuhan protein diperlukan untuk proses inflamasi, imun dan perkembangan jaringan granulasi. Protein utama yang disintesis selama fase penyembuhan luka adalah kolagen. Kekuatan kolagen menentukan kekuatan kulit luka seusai sembuh. Kekurangan intake protein saat proses penyembuhan luka, secara signifikan menunda penyembuhan luka. Salah satu sumber makanan yang kaya akan protein adalah putih telur. Putih telur mengandung protein yang sangat tinggi, mutu protein, nilai cerna dan mutu cerna paling baik dibandingkan dengan protein hewan lainnya. Protein putih telur kaya akan nutrisi diantaranya protein niacin, riboflavin, klorin, magnesium, kalium, sodium, ovalbumin dan mempunyai nilai biologis tinggi karena mengandung asam amino lengkap dibanding protein hewan lainnya.
Dapat dilihat bahwa terdapat perbandingan yang jauh antara penyembuhan luka perineum yang diberikan putih telur memiliki luka cepat kering dan jaringan menutup pada hari keempat dan penyembuhan luka perineum yang tidak diberikan putih telur memiliki penyembuhan lambat dimana pada hari ketiga luka masih basah dan belum kering. Responden yang mengkonsumsi putih telur memiliki berpengaruh dalam penyembuhan luka perineum. Hal ini tidak lepas dari tanggung jawab dan peranan bidan dalam memberikan pelayanan yang maksimal khusunya penyembuhan luka perineum dengan memberikan penyuluhan tentang pentingnya nutrisi bagi penyembuhan luka perineum.
(3)   Nutrisi lain yang dipeerlukan  selama laktasi adalah asupan cairan. Ibu menyusui dianjurkan minum 2-3 liter per hari dalam bentuk air putih, susu, dan jus buah (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui).
(4)   Pil zat besi (Fe) harus diminum, untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pascabersalin.
(5)   Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) sebanyak 2 kali yaitu 1 jam setelah melahirkan dan 24 jam setelahnya agar dapat memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI.
b)   Ambulasi
Pada masa lampau, perawatan puerperium sangat konservatif, dimana puerperal harus tidur terlentang selama 40 hari. Kini perawatan puerperium lebih aktif dengan dianjurkan untuk melakukan mobilisasi dini.
c)   Eliminasi
a)    Buang air kecil (BAK)
Miksi disebut normal bila dapat BAK spontan tiap 3-4 jam.
b)   Buang air besar (BAB)
Defekasi (buang air besar) harus ada dalam 3 hari postpartum.
d)  Kebersihan diri dan perineum
Bila sudah buang air besar atau buang air kecil, perineum harus dibersihkan secara rutin.
Menurut Enny Yuliaswati pada tahun 2018 Daun sirih merupakan tanaman yang mempunyai efek terapi. Daun sirih mengandung minyak astiri, hidroksikavicol, kavicol, kavibetol, allypyrokatekol, cineole, caryophyllene, cadinene, estragol, terpennena, seskuiterpena, fenil propane, tannin, diastase, arecoline. Kandungan – kandungan daun sirih tersebut seperti kavicol, minyak atsiri bersifat anti jamur dan anti bakteri. Diantara kandungan tersebut sirih juga mempunyai efek antibiotic, arecoline bermanfaat untuk merangsang saraf pusat untuk meningkatkan gerakan peristaltic sehingga sirkulasi darah pada luka menjadi lancar, oksigenluka perineumnya dibandingkan dengan responden yang tidak memakai air rebusan daun sirih. Berdasarkan analisis yang dilakukan diperoleh hasil terdapat perbedaan yang signifikan lama penyembuhan luka perimium antara kelompok eksperimen dan kontrol.
pemberian kompres dan obat komplementer dianggap bermanfaat untuk penyembuhan luka perineum. Endapan rebusan daun sirih hijau dapat digunakan sebagai obat kompres dan obat komplementer. Endapan rebusan air daun sirih bisa digunakan ibu yang mengalami luka perineum dengan cara dioles pada daerah luka setiap selesai cebok. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Damarini et al tahun 2012 dengan tujuan untuk menilai efektifitas daun sirih dalam mengobati luka diperoleh hasil pada kelompok perlakuan rata-rata hari perawatan luka perineum dibutuhkan waktu sekitar 3 hari lebih pendek dibanding kelompok control yang membutuhkan waktu minimal 5 hari.
e)   Istirahat
Anjurkan pada ibu beristirahat yang cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan, dan sarankan ia untuk kembali ke kegiatan-kegiatan yang tidak berat.
f)    Seksual
Dinding vagina kembali pada keadaan sebelum hamil dalam waktu 6-8 minggu. Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri begitu darah merah berhenti, dan ibu dapat memasukkan 1 atau 2 jari ke dalam vagina tanpa rasa nyeri.

g)   Senam nifas
Senam nifas adalah senam yang dilakukan ibu-ibu setelah melahirkan setelah keadaan tubuhnya pulih kembali. Senam nifass bertujuan untuk mempercepat penyembuhan, mencegah timbulnya komplikasi, serta memulihkan dan menguatkan otot-otot punggung, otot dasar panggul dan otot perut. (Dewi,2014, h.55-81)

b.   KB
1)   Definisi KB
Keluarga berencana merupakan suatu usaha menjarangkan atau merencanakan jumlah dan jarak kehamilan dengan menggunakan kontrasepsi.  
a)    Tujuan program KB
     Tujuan umumnya adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial eekonomi suatu keluarga, dengan cara pengaturan kelahiran anak agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
b)   Sasaran KB
     Sasaran KB tertuang dalam RPJMN 2004-2009 yang meliputi :
1)   Menurunnya rata-rata lalu pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 1,14%  per tahun.
2)   Menurunnya angka kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2 per perempuan .
3)   Menurunya PUS yang tidak ingin punya anak lagi dan ingin menjarangkan kelahiran berikutnya, tetapi tidak memakai alat/cara kontrasepsi (unmet need) menjadi 6%.
4)   Meningkatnya peserta KB laki-laki menjadi 4,5%.
5)   Meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi yang rasional, efektif, dan efisien.
6)   Meningkatnya rata-rata usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21 tahun.
7)   Meningkatya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak.
8)   Meningkatnya jumlah keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera 1 yang aktif dalam usaha ekonomi produktif.
9)   Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam penyelenggara pelayanan Program KB Nasional.
c)    Ruang lingkup program KB
Ruang lingkup program KB mencakup sebagai berikut :
1)   Ibu
Dengan jalan mengatur jumlah dan jarak kelahiran. Adapun manfaat yang diperoleh oleh ibu adalah sebagai berikut :
a)      Tercegahnya kehamilan yang berulang kali dalam jangka waktu yang terlalu pendek, sehingga kesehatan ibu dapat terpelihara terutama kesehatan organ reproduksinya.
b)      Meningkatkan kesehatan mental dan sosial yang dimungkinkan oleh adanya waktu yang cukup untuk mengasuh anak-anak dan beristirahat yang cukup karena kehadiran akan anak tersebut memang diinginkan.
2)   Suami
Dengan memberikan kesempatan suami agar dapat melakukan hal berikut :
a)      Memperbaiki kesehatan fisik.
b)      Mengurangi beban ekonomi keluarga yang ditunggunya.
3)   Seluruh keluarga
Dilaksanakannya program KB dapat meningkatkan kesehatan fisik, mental, dan sosial setiap anggota keluarga; dan bagi anak dapat memperoleh kesempatan yang lebih besar dalam hal pendidikan serta kasih saying orang tuanya.
d)   Macam-macam kontrasepsi
1)   Metode kontrasepsi sederhana tanpa alat
(a)      Suhu basal
Menjelang ovulasi suhu basal tubuh akan turun dan kurang lebih 24 jam setelah ovulasi suhu basal akan naik lagi sampai lebih tinggi daripada suhu sebelum ovulasi. Fenomena ini dapat digunakan untuk menentukan waktu ovulasi. Suhu basal dicatat dengan teliti setiap hari. Suhu basal diukur waktu pagi segera setelah bangun tidur dan sebelum melakukan aktivitas.
(b)     Metode kalender
Metode kalender menggunakan prinsip pantang berkala yaitu tidak melakukan persetubuhan pada masa subur istri. Untuk menentukan masa subur istri diganakan tiga patokan yaitu ovulasi terjadi 14±2 hari sebelum haid yang akan datang, sperma dapat hidup dan membuahi selama 48 jam setelah ejakulasi, dan ovum dapat hidup 24 jam setelah ovulasi.
(c)      Metode lender serviks
Pada bagan terdapat beberapa hari setelah menstruasi dimana wanita memiliki pola kering pada vulva yang tidak berubah. Beberapa wanita dapat memperlihatkan adanya rabas tetapi biasanya karakteristik sama dari hari ke hari. Keadaan ini dikenal sebagai pola infertil dasar (masa tidak subur).
(d)     Koitus interuptus
Cara kerjanya yaitu alat kelamin pria (penis) dikeluarkan sebelum ejakulasi sehingga sperma tidak masuk ke dalam vagina dan kehamilan dapat dicegah.
2)   Metode kontrasepsi sederhana dengan alat
a)    Kondom
     Kondom yaitu untuk menghalangi masuknya sperma ke dalam vagina, sehingga pembuahan dapat dicegah, selain itu kondom juga dapat mencegah penularan HIV/AIDS dan mengurangi risiko penyakit menular seksual.
b)   Barier intravagina
     Kondom untuk wanita tidak hanya berfungsi mencegah kehamilan, tetapi juga merupakan alat yang efektif melawan HIV, gonore, klamidia, dan trikomoniasis; apabila digunakan dengan benar.
 c) Spermisida
     Spermisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk menonaktifkan atau membunuh sperma. Dikemas dalam bentuk aerosol (busa), tablet vaginal,. Supositoria, atau krim.

3)   Metode kontrasepsi hormonal
a)    Kontrasepsi Oral
(1)      Cara kerja
(a)      Menahan ovulasi.
(b)     Mencegan implantasi.
(c)      Lender serviks mengental sehingga sulit dilalui oleh sperma.
(d)     Pergerakan tuba terganggu sehingga transportasi telur dengan sendirinya akan terganggu pula.  
(2)      Keuntungan
(a)      Memiliki efektivitas yang tinggi.
(b)     Risiko terhadap kesehatan sangat kecil.
(c)      Tidak mengganggu hubungan seksual.
(d)     Siklus haid menjadi teratur, jumlah darah haid berkurang, dan tidak terjadi nyeri haid.
(e)      Dapat digunakan jangka panjang selama masih ingin menggunakannya untuk mencegah kehamilan.
(f)      Dapat digunakan sejak usia remaja hingga menopause.
(g)     Mudah dihentikan setiap saat.
(h)     Kesuburan segera kembali setelah penggunaan pil dihentikan.
(i)       Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat.
(3)      Keterbatasan
(1)     Mahal dan membosankan karena harus menggunakannya setiap hari.
(2)     Mual, terutama pada tiga bulan pertama.
(3)     Perdarahan bercak atau perdarahan sela.
(4)     Pusing.
(5)     Nyeri payudara.
(6)     Berhenti haid.
b)   Suntik  
(1)      Cara kerja
(a)      Mecegah ovulasi
(b)     Mengentalkan lendir serviks dan menjadi sedikit sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma .
(c)      Menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atropi
(d)     Menghambat transportasi gamet dan tuba
(e)      Mengubah endoetrium menjadi tidak sempurna untuk implantasi hasil konsepsi
(2)      Keuntungan atau kelebihan
(a)      Sangat efektif
(b)     Pencegahan kehamilan jangka panjang
(c)      Tidak memiliki pengaruh pada ASI
(d)     Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
(e)      Dapat digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun sampai per imenopause
(f)      Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik
(g)     Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara
(h)     Menurunkan krisis anemia bulan sabit (sickle cell)
(i)       Mencegah beberapa penyebab penyakit radang paggul
(3)      Kerugian
(a)      Gangguan haid seperti siklus haid memendek atau memanjang, perdarahan
(b)     Tidak dapat dihentikkan sewaktu-waktu
(c)      Sering menimbulkan efek samping masalah berat badan
(d)     Terlambatnya kembali kesuburan setelah penghentiam pemakaian
(e)      Terjadi perubahan pada lipid serum pada penggunaan jangka panjang
(f)      Pada penggunaan jangka panjang dapat menurunkan kepadatan tulang (densitas)
(g)     Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi (jarang), sakit kepala, nervositas, dan jerawat.
c)    Implan
1)   Cara kerja
(a)      Lendir serviks menjadi kental
(b)     Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi implantasi
(c)      Mengurangi transportasi sperma
(d)     Menekan ovulasi
2)   Keuntungan
(a)      Daya guna tinggi
(b)     Perlindungan jangka panjang (sampai 5 tahun)
(c)      Pengembalian kesuburan yang cepat
(d)     Tidak memerlukan pemeriksaan dalam
(e)      Bebas dari pengaruh estrogen
(f)      Tidak mengganggu kegiatan senggama
(g)     Tidak mengganggu ASI
(h)     Mengurangi/memperbaiki anemia
(i)       Klien hanya kembali ke klinik bila ada keluhan
(j)       Dapat dicabut setiap saat
(k)     Mengurangi jumlah darah haid

3)   Kerugian
(a)      Nyeri kepala
(b)     Peningkatan/penurunan berat badan
(c)      Nyeri payudara
(d)     Perubahan perasaan (mood) atau kegelisahan (nervousness)
(e)      Membutuhkan tindak pembedahan minor untuk insersi dan pencabutan
(f)      Tidak memberikan efek protektif terhadap infeksi menular seksual termasuk AIDS
(g)     Klien tidak dapat menghentikan sendiri peakaian kontrasepsi
(h)     Efektivitas menurun bila menggunkan obat-obatan tuberculosis (rifampisin) atau epilepsy (fenitoin dan barbiturat).  
d)   Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR)
1)   Keuntungan
(a)      Efektivitas tinggi (0,68-0,8 kehamilan/100 kehamilan dalam 1 tahun pertama,  1 kegagalan dalam 125-170 kehamilan.
(b)     Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti).
(c)      Tidak mempengaruhi hubungan seksual.
(d)     Tidak mempengaruhi produksi ASI.
(e)      Dapat dipasang segera setelah melahitkan atau sesudah abortus (apabila tidak terjadi infeksi).
(f)      Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid terakhir).
(g)     Tidak ada interaksi dengan obat-obatan.
(h)     Reversibel.
(i)       Dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduksi.
2)   Keterbatasan
(a)      Efek samping yang umum terjadi, perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3 bulan), haid lebih lama dan banyak, perdarahan spotting antarmenstruasi, saat haid lebih sakit.
(b)     Komplikasi lain : merassakan sakit dan kejang selama 3-5 hari setelah pemasangan, perforasi dinding uterus, perdarahan berat pada waktu haid yang memungkinkan penyebab anemia.
(c)      Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS.
(d)     Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering gonta-ganti pasangan. (Sulistyawati,2014, h:49-82)

B.  Standar Asuhan Kebidanan
Standar asuhan kebidanan yang diberikan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 938/MENKES/SK/VIII/2007 tentang standar Asuhan Kebidanan.

1.    Pengertian standar Asuhan Kebidanan
Standar asuhan kebidanan adalah acuan dalam proses pengambilan keputusan dan tindakan yang dilakukan oleh bidan sesuai dengan wewenang dan ruang lingkup praktiknya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan, mulai dari pengkajian, perumusan diagnosa dan /atau masalah kebidanan, perencanaan, implementasi, evaluasi dan pencatatan asuhan kebidanan.
a.    STANDAR I: Pengkajian
1)   Pernyataan standar
Bidan mengumpulkan semua informasi yang akurat, relevan dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
2)   kriteria pengkajian
a)    Data tepat, akurat dan lengkap.
b)   Terdiri dari data Subjektif hasil Anamnesa: biodata, keluhan utama, riwayat obstetri, riwayat kesehatan, dan latar belakang sosial budaya.
c)    Data objektif (hasil pemeriksaan fisik, psikologis dan pemeriksaan penunjang.

b.   STANDAR II: Perumusan Diagnosa dan/atau masalah kebidanan
1)   Pernyataan standar
Bidan menganalisa data yang diperoleh pada pengkajian, menginterpretasikannya secara akurat dan logis untuk menegakan diagnose dan masalah kebidanan yang tepat. 

2)   Kriteria perumusan Diagnosa dan/atau Masalah
a)    Diagnosa sesuai dengan nomenklatur kebidanan.
b)   Masalah dirumuskan sesuai dengan kondisi klien.
c)    Dapat diselesaikan dengan Asuhan Kebidanan secara mandiri, kolaborasi, dan rujukan.

c.    STANDAR III: Perencanaan
1)   Pernyataan standar
Bidan merencanakan asuhan kebidanan berdasarkan diagnosa dan masalah yang ditegakkan.
2)   Kriteria perencanaan
a)    Rencana tindakan disusun berdasarkan prioritas masalah dan kondisi klien: tindakan segera, tindakan antisipasi, dan asuhan secara komprehensif.
b)   Melibatkan klien / pasien dan/atau keluarga.
c)    Mempertimbangkan kondisi psikologi, sosial budaya klien / keluarga.
d)   Memilih tindakan yang aman sesuai kondisi dan kebutuhan klien berdasarkan evidence based dan memastikan bahwa asuhan yang diberikan bermanfaat untuk klien.
e)    Memepertimbangkan kebijakan dan peraturan yang berlaku, sumber daya serta fasilitas yang ada.
d.   STANDAR IV: Impelementasi
1)   Pernyataan standar
Bidan melaksanakan rencana asuhan kebidanan secara komprehensif, efektif, efisien dan aman berdasarkan evidence based kepada klien/pasien, bentuk upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Dilaksanakan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan.
2)   Kriteria
a)    Memperhatikan keunikan klien sebagai mahluk bio-psiko-sosial-spiritual-kultura.
b)   Setiap tindakan asuhan harus mendapatkan persetujuan dari klien dan/atau keluarganya (inform consent).
c)    Melaksanakan tindakan asuhan berdasarkan evidence based.
d)   Melibatkan klien/pasien dalam setiap tindakan.
e)    Menjaga privasi klien/pasien.
f)    Melaksanakan prinsip pencegahan infeksi.
g)   Mengikuti perkembangan kondisi klien secara berkesinambungan
h)   Menggunakan sumber daya, sarana dan fasilitas yang ada dan sesuai.
i)     Melakukan tindakan sesuai standar.
j)     Mencatat semua tindakan yang telah dilakukan.



e.    STANDAR V: Evaluasi
1)   Pernyataan standar
Bidan melakukan evaluasi secara sistematis dan berkesinambungan untuk melihat keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan, sesuai dengan perubahan perkembangan kondisi klien.
2)   Kriteria Evaluasi
a)    Penilaian dilakukan segera setelah selesai melaksanakan asuhan sesuai kondisi klien.
b)   Hasil evalusi segera dicatat dan dikomunikasikan pada klien dan/keluarga.
c)    Evaluasi dilakukan sesuai dengan stndar.
d)   Hasil evaluasi ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi klien/pasien.

f.     STANDAR VI: Pencatatan Asuhan Kebidanan
1)   Pernyataan standar
Bidan melakukan pencatatan secara lengkap, akurat, singkat dan jelas mengenai keadaan / kejadian yang ditemukan dan dilakukan dalam memberikan asuhan kebidanan.
2)   Kriteria pencatatan Asuhan Kebidanan
a)    Pencatatan dilakukan segera setelah melaksanakan asuhan pada formulir yang tersedia (Rekam Medis/KMSI Status pasien/buku KIA)
b)   Ditulis dalam bentuk catatan perkembangan SOAP.
c)    S adala data subjektif, mencatat hasil anamnesa.
d)   O adalah data objektif, mencatat hasl pemeriksaan.
e)    A adalah hasil analisa, mencatat diagnosa dan masalah kebidanan.
P adalah penatalaksanaan, mencatat seluruh perencanaan dan penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti tindakan antisipatif, tindakan segera, tindakan secara  komprehensif, penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi / follow up dan rujukan. (Susanti, 2015, h. 168-172).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar