BAB
II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Konsep
Dasar
1. Kehamilan
a.
Definisi
kehamilan
Kehamilan
didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan
dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari saat fertilisasi
hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu
atau 10 bulan atau 9 bulan menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi
menjadi 3 trimester, dimana trimester kesatu berlangsung dalam 12 minggu,
trimester kedua berlangsung dalam 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan
trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke-40). (Prawirohardjo,2016
h:213).
Kehamilan merupakan
proses yang normal dan alamiah. Hal ini perlu di yakini oleh tenaga kesehatan
khususnya bidan, sehingga ketika memberikan asuhan kepada pasien, pendekatan
yang dilakukan lebih cenderung kepada bentuk pelayanan promotif. Realisasi yang
paling mudah dilaksanakan adalah pelaksanaan komunikasi informasi dan edukasi
(KIE) kepada pasien dengan materi-materi mengenai pemantauan kesehatan ibu
hamil dan penatalaksanaan ketidaknyamanan selama hamil.
b. Standar asuhan
kehamilan
1)
Kunjungan antenatal care (ANC) minimal:
a)
Satu kali pada
trimester I (usia kehamilan 0-13 minggu)
b)
Satu kali pada
trimester II (usia kehamilan 14-27 minggu)
c)
Dua kali pada trimester
III (usia kehamilan 28-40 minggu).
(Sulistyawati,2013,
h.2-4)
2)
Standar pelayanan
antenatal ada 10 T yaitu :
a)
Menimbang berat badan
b)
Mengukur lingkar lengan
atas (LILA)
c)
Mengukur tekanan darah
d)
Mengukur tinggi fundus
uteri (TFU)
e)
Menghitung denyut
jantung janin (DJJ)
f)
Menentukan presentasi
janin
g)
Memberikan imunisasi
tetanus toxoid
h)
Memberikan tablet
penambah darah (fe)
i)
Pemeriksaan
laboratorium (Rutin dan khusus)
j)
Tatalaksana/penanganan kasus.
(Astuti, 2017, h.124)
c. Perubahan anatomi dan
fisiologi ibu hamil
1)
Sistem reproduksi
a) Uterus
Pada kehamilan cukup
bulan, ukuran uterus adalah 30x25x20 cm dengan kapasitas lebih dari 4000 cc.
hal ini memungkinkan bagi adekuatnya akomodasi pertumbuhan janin. Pada saat ini
rahim membesar akibat hipertopi dan hiperplasi otot polos rahim, serabut-serabut
kolagennya menjadi higroskopik, dan endometrium menjadi desidua.
Tabel 2.1
TFU menurut pertambahn pertiga jari
|
Usia
kehamilan (minggu)
|
Tinggi
Fundus uteri (TFU)
|
|
12
|
3 jari di atas
simfisis
|
|
16
|
Pertengahan
pusat-simfisis
|
|
20
|
3 jari di
bawah simfisis
|
|
24
|
Setinggi pusat
|
|
28
|
3 jari di atas
pusat
|
|
32
|
Pertengahan
pusat-prosesus xiphoideus (px)
|
|
36
|
3 jari dibawah
prosesus xiphoideus
|
|
40
|
Pertengahan
pusat- prosesus xiphoideus
|
b)
Posisi rahim dalam
kehamilan
Pada
permulaan kehamilan, dalam posisi antefleksi atau retrofeksi. Pada 4 bulan
kehamilan. Rahim tetap berada dalam rongga pelvis. Setelah itu, mulai memasuki
rongga perut yang dalam pembesarannya dapat mencapai batas hati. Pada ibu
hamil, rahim biasanya mobile, lebih mengisi rongga abdomen kanan dan kiri.
c)
Vaskularisasi arteri
uterine dan ovarika bertambah dalam diameter, panjang dan anak-anak cabangnya,
pembuluh darah vena mengembang dan bertambah
d) Serviks
uteri. Bertambah vaskularisasinya dan menjadi lunak, kondisi ini yang disebut
dengan tanda Goodell. Kelenjar
endoservikal membesar dan mengeluarkan banyak cairan mukus. Oleh karena
pertambahan dan pelebaran pembuluh darah, warnanya menjadi livid, dan ini
disebut dengan tanda Chadwick.
e) Ovarium,
ovulasi berhenti namun masih terdapat korpus luteum graviditas sampai
terbentuknya plasenta yang akan mengambil alih pengeluaran estrogen dan
progesteron.
f) Vagina
dan vulva, oleh karena pengaruh estrogen, terjadi hipervaskularisasi pada
vagina dan vulva, sehingga pada bagian tersebut terlihat lebih merah atau
kebiruan, kondisi ini disebut dengan tanda Chadwick.
Palpasi abdomen
Leopold
I: bertujuan mengetahui TFU dan bagian yang ada difundus.
Leopold
II: bertujuan untuk mengetahui bagian janin yang ada di sebelah kanan dan kiri
Leopold
III: bertujuan untuk mengetahui bagian janin yang ada di bawah uterus
Leopold
IV: bertujuan untuk mengetahui bagian janin yang ada di bawah dan untuk
mengetahui apakah kepala sudah masuk panggul atau belum. (Sulistyawati, 2014, h.90)
2)
Sistem kardiovaskular
Perubahan pada system
ini kardiovaskular tidak terlepas dari pengaruh peningkatan kadar estrogen,
progesteron, dan prosraglandin. Akibat perubahan yang terjadi, sistem ini akan
beradaptasi selama masa kehamilan. Perubahan hemodinamik memungkinkan sistem kardiovaskular
ibu untuk memenuhi kebutuhan janin, selain mempertahankan status
kardiovaskularnya sendiri. Perubahan fungsi jantung menjadi tampak jelas pada
minggu ke-8 kehamilan. Meskipun perubahan sistem kardiovaskular terlihat pada
awal trimester pertama, perubahan pada sistem kardiovaskular berlanjut ke
trimester kedua dan trimester ke tiga.
3) Sistem
hematologi
Perubahan dan adaptasi
ibu terhadap kehamilan terjadi pula pada sistem hematologi. Adaptasi dilakukan
tidak jauh berbeda dengan adaptasi pada sistem tubuh lainnya yaitu unuk menjaga
fungsi fisiologis normal. Selain itu, juga untuk memenuhi kebutuhan ibu serta
pertumbuhan dan perkembangan janin.
Volume darah
Setelah usia kehamilan
32-34 minggu, ibu akan megalami hipervolemia. Bagaimaapun juga, derajat
ekspansi volume darah ini sangat bervariasi. Pada sejumlah individu hanya
terjadi sedikit peningkatan, namun ada pula yang menigkat dua kali lipat. Perlu
dipahami bahwa besarnya peningkatan volume darah bervariasi menurut ukuran
tubuh, jumlah kehamilan, jumlah bayi yang pernah dilahirkan, dan pernah atau
tidaknya melahirkan bayi kembar. Volume darah wanita yang bertubuh kecil hanya
meningkat 20%, sedangkan wanita yang bertubuh besar dapat meningkat hingga 100%
(rata-rata 45-50%). Peningkatan total volume darah akan berbeda antara
kehamilan tunggal dan kehamilan kembar.
a)
Hemoglobin dan
hematokrit
Total
keseluruhan volume darah merupakan hasil dari peningkatan volume plasma dan sel
darah merah. Plasma menyumbang 75% (± 1000 mL) dari kenaikan tersebut dan
volume sel darah merah akan menigkat sebesar 33% (±450 mL) dari nilai sebelum
hamil. Akibat dari perubahan volume darah ini, maka akan terjadi yang disebut
dengan hemodilusi. Kondisi ini ditandai dengan kadar hemoglobin dan hematokrit
yang sedikit menurun, sehingga kekentalan darah pun akan menurun, yang dikenal
dengan nama anemia fisiologi kehamilan. Anemia ini sering kali terjadi pada ibu
hamil usia kehamilan antara 24-32 minggu. Nilai hemoglobin di bawah 11 g/dL dan
hemtokrit bawah 35%, terutama diakhir kehamilan, harus dianggap abnormal.
Namun, kondisi ini bukan hanya karena hipervolemia, tetapi biasanya terjadi
akibat kekurangan zat besi.
c) Leukosit
dan trombosit
Sel darah putih
(leukosit) total akan meningkat selama trimester kedua dan mencapai puncaknya
selama trimester ketiga, terutama granulosit dan limfosit T CD8. Peningkatan
leukosit ini bervariasi selama kehamilan yaitu berkisar antara 5000-10.000/L
dan akan tampak nyata peningkatannya pada persalinan, serta pada awal masa
nifas hingga 25.000/L atau lebih.
4) Sistem
respirasi (pernapasan)
Untuk dapat memenuhi
kebutuhan oksigen ibu dan menyediakan kebutuhan oksigen janin, maka sistem
respirasi mengadakan perubahan serta adaptasi. Sebagai respons terhadap
peningkatan metabolisme serta peningkatan kebutuhan oksigen ke uterus dan
janin, maka secara otomatis kebutuhan oksigen ibu akan meningkat. Pembesaran
uterus akan menyebabkan diafragma naik sekitar 4 cm selama kehamilan. Selain
itu, panjang paru juga akan berkurang, diameter tranversal kerangka toraks akan
meningkat sekitar 2 cm, dan lingkar dada meningkat sekita 6 cm. (Astuti, 2017, h.79-85)
5) Sistem
urinaria
Selama kehamilan,
ginjal bekerja lebih berat. Ginjal menyaring darah yang volumenya meningkat
(sampai 30-50% atau lebih), yang puncaknya terjadi pada usia kehamilan 16-24
minggu sampai sesaat sebelum persalinan (pada saat ini aliran darah yang
volumenya berkurang akibat penekanan rahim yang membesar). (Sulistyawati, 2014, h.62).
6) Sistem
gastrointestinal
Rahim yang semakin
membesar akan menekan rektum dan usus bagian bawah, sehingga terjadi sembelit
atau konstipasi. Sembelit semakin berat karena gerakan otot di dalam usus
diperlambat oleh tingginya kadar progeteron.
7) Sistem
metabolisme
Janin membutuhkan 30-40
gram kalsium untuk pembentukan tulangnya dan ini terjadi ketika trimester
terakhir. Oleh karena itu, peningkatan asupan kalsium sangat diperlukan untuk
menunjang kebutuhan. Peningkatan kebutuhan kalsium mencapai 70% dari diet
biasanya. Penting bagi ibu hamil untuk selalu sarapan karena kadar glukosa
darah ibu sangat berperan dalam perkembangan janin, dan berpuasa saat kehamilan
akan memproduksi lebih banyak ketosis yang dikenal dengan “ cepat merasakan
lapar” yang mungkin berbahaya pada janin. (Sulistyawati, 2016, h.62).
8) Sistem
muskuloskeletal
Pada ibu hamil,
perubahan musculoskeletal disebabkan oleh peningkatan berat badan yang
mengakibatkan postur dan gaya berjalan ibu hamil akan berubah. Kurvatura spinal
melakukan penyesuaian terutama pada akhir kehamilan karena terjadi peningkatan
distensi abdomen yang membuat panggul miring ke depan, penurunan tonus otot
abdomen, dan peningkatan berat badan.
9) Sistem
integumen
Pada dasarnya, perubahan
sistem integumen disebabkan oleh perubahan hormonal dan perubahan secara
mekanis pada tubuh ibu yaitu peregangan. Selama kehamilan, akan terjadi
peningkatan ketebalan kulit dan lemak subdemal, hiperpigmentasi, pertumbuhan
rambut dan kuku, percepatan aktivitas
kelenjar keringat dan kelenjar sebasea, peningkatan sirkulasi dan aktivitas
vasomotor, jaringan elastis kulit mudah pecah, serta respons alergi kulit
meningkat. Perubahan pada sistem integumen dapat dirasakan sebagai
ketidaknyamanan oleh sejumlah ibu hamil.
(Astuti, 2017, h.88-90)
10)
Payudara
Payudara sebagai organ
target untuk proses laktasi mengalami banyak perubahan sebagai persiapan
setelah jalan lahir. Beberapa perubahan yang dapat diamati oleh ibu adalah
sebagai berikut.
a) Selama
kehamilan payudara bertambah besar, tegang, dan berat
b) Dapat
teraba nodul-nodul, akibat hipertropi kelenjar alveoli
c) Bayangan
vena-vena lebih membiru
d) Hiperpigmentasi
pada areola dan puting susu
e) Kalau
diperas akan keluar air susu jolong (kolostrum) berwarna kuning.
11)
Sistem endokrin
Selama siklus
menstruasi normal, hipofisis anterior memproduksi LH dan FSH. Follicle stimulating hormone (FSH)
merangsang folikel de graaf untuk menjadi matang dan berpindah ke permukaan
ovarium di mana ia dilepaskan. Folikel
yang kosong dikenal sebagai korpus luteum dirangsangan oleh LH untuk
memproduksi progesteron. Progesteron dan estrogen merangsang proliferasi dari
desidua (lapisan dalam uterus) dalam upaya mempersiapkan implantasi jika
kehamilan terjadi. Plasenta, yang terbentuk secara sempurna dan berfungsi 10
minggu setelah pembuahan terjadi, akan mengambil alih tugas korpus luteum untuk
memproduksi estrogen dan progesteron.
12) Indeks
massa tubuh (IMT)
Cara yang dipakai untuk
menentukan berat badan menurut tinggi badan adalah dengan menggunakan indeks
massa tubuh (IMT) dengan rumus berat badan dibagi tinggi badan pangkat 2. Nilai
IMT mempunyai rentang sebagai berikut.
19,8-26,6
: Normal
<
19,8 : Underweight
26,6-29,0
: Overweight
>29,0 : Obese
Perkiraan
peningkatan berat badan yang dianjurkan
a)
4 kg pada kehamilan
trimester I
b)
0,5 kg/minggu pada
kehamilan trimester II sampai III
Totalnya sekitar 15-16
kg. (Sulistyawati, 2016, h.65-68).
13) Sistem
persarafan
Ruang abdomen yang
membesar oleh karena meningkatnya ruang rahim dan pembentukan hormone
progesterone menyebabkan paru-paru berfungsi sedikit berbeda dari biasanya. Wanita
hamil bernafas lebih cepat dan lebih dalam karena memerlukan lebih banyak
oksigen untuk janin dan untuk dirinya. Lingkar dada wanita hamil agak membesar.
Lapisan saluran pernapasan menerima lebih banyak darah dan menjadi agak
tersumbat oleh penumpukan darah (kongesti). Kadang hidung dan tenggorokan
mengalami penyumbatan parsialakibat kongesti ini. Tekanan dan kualitas suaara
wanita hamil agak berubah.
e.
Kebutuhan
fisik ibu hamil
1) Diet
makan
Kebutuhan makanan pada
ibu hamil mutlak harus dipenuhi. Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan anemia,
abortus, IUGR, inersia uteri, perdarahan pasca persalinan, sepsis puerperalis,
dan lain-lain. Sedangkan kelebihan makanan karena beranggapan pemenuhan makan
untuk dua orang akan berakibat kegemukan, pre-eklampsi, janin terlalu besar,
dan sebagainya. Hal penting yang harus diperhatikan sebenarnya adalah cara
mengatur menu dan pengolahan menu tersebut dengan berpedoman pada Pedoman Umum
Gizi Seimbang. Bidan sebagai pengawas kecukupan gizinya dapat melakukan
pemantauan terhadap kenaikan berat badan selama kehamilan.
2) Kebutuhan
energi
Widya karya pangan dan
gizi nasional menganjurkan pada ibu
hamil untuk meningkatkan asupan energinya sebesaar 285 kkal per hari. Tambahan
energi ini bertujuan untuk memasok kebutuhan ibu dalam memenuhi kebutuhan
janin. Pada trimester I kebutuhan energi meningkat untuk organogenesisatau
pembentukan organ-organ penting janin, dan jumlah tambahan energi ini terus
meningkat pada trimester II dan III untuk pertumbuhan janin.
3) Obat-obatan
Sebenarnya jika kondisi ibu hamil tidak dalam keadaan yang
benar-benar berindikasi untuk diberikan obat-obatan, sebaiknya pemberian obat
dihindari. Penatalaksanaan keluhan dan ketidaknyamanan yang dialami lebih
dianjurkan kepada pencegahan dan perawatan saja.
4) Lingkungan
yang bersih
Salah satu pendukung
untuk keberlangsungnya kehamilan yang sehat dan aman adalah adanya
lingkungan yang bersih, karena kemungkinan terpapar kuman dan zat toksik yang
berbahaya bagi ibu dan janin akan terminimalisasi. Lingkungan bersih disini
adalah termasuk bebas dari polusi udara seperti asap rokok.
5) Senam
hamil
Kegunaan senam hamil
adalah melancarkan sirkulasi darah, nafsu makan bertambah, pencernaan menjadi
lebih baik, dan tidur menjadi lebih nyenyak.
6) Pakaian
Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pakainan ibu hamil adalah memenuhi criteria berikut ini :
a) Pakaian
harus longgar, bersih, dan tidak ada ikatan yang ketat pada daerah perut.
b) Bahan
pakaian usahakan yang mudah menyerap keringat.
c) Pakailah
bra yang menyokong payudara.
d) Memakai
sepatu dengan hak yang rendah.
e) Pakaian
dalam yang selalu bersih.
7) Istirahat
dan rekreasi
Dengan adanya perubahan
fisik pada ibu hamil, salah satunya beban berat badan perut sehingga terjadi
perubahan sikap tubuh, tidak jarang ibu akan mengalami kelelahan, oleh karena
itu istirahat dan tidur sangat penting untuk ibu hamil.
8) Kebersihan
tubuh
Kebersihan tubuh ibu
hamil perlu diperhatikan karena dengan perubahan system metabolism mengakibatkan
peningkatan pengeluaran keringat. Keringat yang menempel dikulit meningkatkan
kelembapan kulit dan memungkinkan menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme.
9)
Perawatan payudara
Payudara merupakan
asset yang sangat penting sebagai persiapan menyambut kelahiran sang bayi dalam
proses menyusui. Beberapa hal yang harus diperrhatikan dalam perawatan payudara
adalah sebagai berikut :
a) Hindari
pemakaian bra dengan ukuran yangterlalu ketat
b) Gunakan
bra dengan bentuk yang menyangga payudara
c) Hindari
membersihkan putting dengan sabun mandi
d) Jika
ditemukan pengeluaran cairan yang berwarna kekuningan dari payudara, berarti
produksi ASI sudah dimulai.
10)
Eliminasi
Keluhan
yang sering muncul pada ibu hamil berkaitan dengan eliminasi adalah konstipasi
dan sering buang air bersih. Konstipasi terjadi karena adanya pengaruh hormone
progesterone yang mempunyai efek rileks terhadap otot polos, salah satunya otot
usus. Sering buang air kecil merupakan keluhan umum dirasakan oleh ibuhamil,
terutama pada trimester I dan III. Ini terjadi karena pada awal kehamilan
terjadi pembesaran uterus yang mendesak kantong kemih sehingga kapasitasnya
berkurang. Sedangkan pada trimester III terjadi pembesaranjanin yang juga
menyebabkan desakan pada kantong kemih.
11)
Seksual
Hubungan
seksual selama kehamilan tidak dilarang selama tidak ada riwayat penyakit
seperti berikut ini :
a)
Sering abortus dan
kelahiran premature.
b)
Perdarahan per vaginam.
c)
Koitus harus dilakukan
dengan hati-hati terutama pada minggu terakhir kehamilan.
d)
Bila ketuban sudah
pecah, koitus dilarang karena dapat menyebabkan infeksi janin intrauteri.
12)
Sikap tubuh yang baik
(body mechanic)
Seiring
dengan bertambahnya usia kehamilan, tubuh akan mengadakan penyesuaian fisik
dengan pertambahan ukuran janin. Perubahan tubuh yang paling jelas adalah
tulang punggung bertambah lordosis karena tumpuan tubuh bergeser lebih ke
belakang dibandingkan sikp tubuh ketika tidak hamil.
13)
Imunisasi
Imunisasi
selama kehamilan sangat penting dilakukan untuk mencegah penyakit yang dapat
menyebabkan kematian ibu dan janin. Jenis imunisasi yang diberikan adalah Tetanus
Toxoid (TT) yang dapat mencegah penyakit tetanus.
Tabel 2.2
Imunisasi TT
|
Status
|
Jenis suntikan TT
|
Interval (selang waktu minimal
|
Lama
Perlindungan
|
Persentase perlindungan
|
|
T0
|
Belum
pernah mendapat suntikan TT
|
-
|
-
|
-
|
|
T1
|
TT1
|
|
|
80
|
|
T2
|
TT2
|
4
bulan dari TT2
|
3
tahun
|
95
|
|
T3
|
TT3
|
6
tahun setelah TT3
|
5
tahun
|
99
|
|
T4
|
TT4
|
Minimal
1 tahun dari TT3
|
10
tahun
|
99
|
|
T5
|
TT5
|
3
tahun dari TT4
|
seumur
hidup
|
|
14)
Persiapan persalinan
Meskipun
hari perkiraan persalinan masih lama tidak ada salahnya jika ibu dan keluarga
mempersiapkan persalinan sejak jauh hari sebelumnya. Ini dimaksudkan agar jika
terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan atau persalinan maju dari hari
perkiraan, semua perlengkapan yang dibutuhkan sudah siap. Beberapa hal yang
harus dipersiapkan untuk perslinan adalah:
a) Biaya
dan penentuan tempat serta penolong persalinan.
b) Anggota
keluarga yang dijadikan sebagai pengambil keputusan jika terjadi suatu
komplikasi yang membutuhkan rujukan.
c) Baju
ibu dan bayi beserta perlengkapan lainnya.
d) Surat-surat
fasilitas kesehatan (misalnya Askes, jaminan kesehatan dari tempat kerja kartu
sehat dan lain-lain).
e) Pembagian
peran ketika ibu berada di RS (ibu dan mertua, yang menjaga anak lainnya jika
bukan persalinan yang pertama).
15)
Memantau kesejahteraan
janin
Kesejahteraan
janin dalam kandungan perlu dipantau secara terus-menerus agar jika ada
gangguan janin dalam kandungan akan dapat segera terdeteksi dan ditangani. Salah
satu indikator kesejahteraan janin yang dapat dipantau sendiri oleh ibu adalah
gerakannya dalam 24 jam.
Gerakan
janin dalam 24 jam minimal 10 kali. Gerakan ini dirasakan dan dihitung oleh ibu
sendiri yang dikenal dengan menghitung “gerak sepuluh”.
f.
Ketidaknyamanan
yang umum muncul dalam kehamilan
1) Cloasma
Biasanya
terjadi pada trimester II karena Kecendrungan genetik peningkatan kadar
estrogen dan mungkin progesteron. cara mencegahnya yaitu hindari sinar matahari
berlebihan selama masa kehamilan dan gunakan bahan pelindung nonalergi
2) Morning
sickness (mual dan muntah)
Biasanya dirasakan pada
saat kehamilan dini. Disebabkan oleh respons terhadap hormone dan merupakan
pengaruh fisiologi. Untuk penatalaksanaan khusus bisa dengan diet, namun jika
vomitus uterus terjadi maka obat-obat antimeti dapat diberikan. Untuk asuhannya
berikan nasihat tentang gizi, makan sedikit tapi sering, makan makanan padat
sebelum bangkit dari berbaring, segera melaporkannya jika gejala vomitus
menetap atau bertambah parah, serta
mengingatkan pasien bahwa obat antivomitus dapat membuatnya mengantuk.
3) Mengidam
Terjadi setiap saat,
disebabkan karena respons papilla pengecap pada hormone sedangkan pada sebagian
wanita,mungkin untuk mendapatkan perhatian. Untuk penatalaksanaan khusus yaitu
dengan nasihat dan menentramkan perasaan pasien. Berikan asuhan dengan
meyakinkan bahwa diet yang baik tidak akan terpengaruh oleh makanan yang salah.
4) Panas
perut
Mulai terasa pada
trimester II dan akan semakin bertambah seiring dengan bertambahnya umur
kehamilan. Aliran balik esofagus yang menyebabkan rasa paans seperti terbakar
diarea retrosternal. Timbul dari aliran balik asam lambung kedalam esofagus
bagian bawah. Produksi progesteron yang meningkat dan pergeseran lambung karena
perbesaran uterus. cara mengatasinya makan sedikit tapi sering hindari makanan
yang berlemak terlalu banyak, termasuk gorengan dan makanan yang berbumbu
tajam.
5) Konstipasi
Terjadi pada bulan-bulan
terakhir, dan disebabkan karena progeteron dan usus yang terdesak oleh rahim
yang membesar, atau bisa juga dikarena efek dari terapi tablet zat besi.
Penatalaksanaan khusus yaitu dengan diet atau kadang-kadang dapat diberikan
yaitu dengan nasihat makanan tinggi serat, buah dan sayuran, ekstra cairan,
hindari makanan berminyak, dan anjurkan olahraga tanpa dipaksa.
6) Hemoroid
Dirasakan
pada bulan-bulan terakhir, dan disebabkan karena progeteron serta adanya
hambatan arus balik vena. Penatalaksanaan khusus dengan diet, pemberian krim
atau supositoria hemoroid, reposisi digital, kadang operasi jika terdapat
thrombosis (kolaborasi dengan dokter). Asuhan yang dapat diberikan dengan
nasihat untuk mencegah konstipasi.
7) Gejala
pingsan
Umum
dirasakan pada kehamilan dini dan lanjut. Disebabkan karena vasodilatasi
hipotensi atau hemodilusi. Yang harus dilakukan adalah dengan menentramkan
perasaan pasien, kadang dapat diberikan suplemen zat besi, berbaring jika
terasa pening dan singkirkan sebab-sebab yang serius, seperti kelainan jantung
preeklampsi, hipoglikemia, anemia,. Asuhan yang dapat diberikan dengan nasihat
untuk menghindari situasi yang membuat keadaan ini bertambah parah (misalnya
panas), menjelaskan penyebabnya menghindari interval waktu makan yang terlalu lama,
menghindari pemakaian pakaian yang terlalu ketat.
8) Insomnia
Dirasakan
ketika kehamilan dini dan lanjut. Karena tekanan pada kandung kemih, pruritis,
kekhawatiran, gerakan janin yag sering menendanng, kram, heartburn. Yang harus
dilakukan adalah penyelidikan dan penanganan penyebab, kadang-kadang diperlukan
preparat sedativ, dan minum susu sebelum tidur dapat membantu.mengingatkan
kembali nasihat yang diberikan dokter, memastikan bahwa cara-cara sederhana
untuk menanggulangi insomnia seperti mengubah suhu dan suasana kamar menjadi
lebih sejuk dengan mengurangi sinar yang masuk atau mengurangi kegaduhan.
Sebaiknya tidur mirin ke kiri atau ke kanan dan beri ganjalan pada kaki, serta
mandilah dengan air hangat sebelum tidur yang akan menjadikan ibu ebih santai
dan mengantuk, dan merujukkan pasien kepada petugas psikologis jika diperlukan.
9) Kram
otot betis
Umum
dirasakan saat kehamilan lanjut. Untuk penyebab tidak jelas, bisa karenakan iskemia
transient setempat, kebutuhan akan kalsium (kadar rendahnya rendah dalam tubuh)
atau perubahan sirkulasi darah, tekanan pada syaraf di kaki. Kalsium dan
vitamin kadang-kadang diperlukan, khasiat kedua preparat ini masih belum dapat
dipastikan. Nasihati untuk jangan menggunakan sembarangan obat tanpa seizin
dokter, perbanyak makan-makanan yang mengandung kalsium, menaikan kaki ke atas,
pengobatan simpotomatik dengan kompres hangat, massase, menarik jari kaki ke
atas.
10) Buang
air kecil yang sering
Keluhan
dirasakan saat kehamilan dini, kemudian kehamilan lanjut. Disebabkan karena
progesterone dan tekanan pada kandung kemih karena pembesaran rahim atau kepala
bayi yang turun ke rongga panggul. Yang harus dilakukan adalah dengan
menyingkirkan kemungkinan infeksi. Beri nasihat untuk mengurngi minum setelah
makan malam atau minimal 2 jam sebelum tidur, menghindari minum yang mengandung
kafein, jangan mengurangi kebutuhan air minum (minimal 8 gelas/hari) perbanyak
disiang hari dan lakukan senam kegel.
11) Keputihan
Waktu terjadi pada
trimester I dan III. Disebabkan karena peningkatan produksi lendir dan kelenjar
endoservikal sebagai akibat dari peningkatan kadar estrogen. Cara mengatasinya
tingkatkan kebersihan dengan mandi setiap hari dan memakai pakaian dalam yang
terbuat dari katun agar menyerap cairan.
12) Nyeri
punggung
Umum dirasakan ketika
kehamilan lanjut. Disebabkan oleh progesterone dan relaksasi (yang melunakan
jaringan ikat) dan postur tubuh yang berubah serta meningkatnya beba berat yang
dibawa dalam rahim. Yang harus dilakukan adalah dengan menyingkirkan
kemungkinan penyebab yang serius, fisoterapi, pemanasan pada bagian yang sakit,
analgesia, dan istirahat. Berikan nasihat untuk memperhatikan postur tubuh
(jangan terlalu sering membungkuk dan berdiri serta berjalan dengan punggug dan
bahu yang tegak, menggunaka sepatu tumit rendah, hindari mengangkat benda yang
berat, memberitahukan cara-cara untuk mengistirahatkan otot punggung,
menjelaskan keuntungan untuk mengenakan korset khusus bagi ibu hamil, tidur pada
kasur tipis yang di bawanya ditaruh papan jika diperlukan (atau yang nyaman).
13) Sesak
nafas
Terasa pada saat usia
kehamilan lanjut (33-36 minggu). Disebabkan oleh pembesaran rahim yang menekan
daerah dada. Dapat diatasi dengan senam hamil (latihan pernafasan), pegang
kedua tangan di atas kepala yang akan member ruang bernafas yang lebih luas.
14) Mudah
lelah
Umum dirasakan setiap
saat dan disebabkan karena perubahan emosional maupun fisik. Yang harus
dilakukan adalah dengan mencari waktu untuk beristirahat, jika merasa lelah
pada siang hari maka segera tidurlah, hindari tugas rumah tangga yang terlalu
berat, cukup mengkonsumsi kalori, zat besi dan asam folat.
g.
Tanda
bahaya kehamilan
Selama
kehamila beberapa tanda bahaya yang dialami dapat dijadikan sebagai data dalam
deteksi dini komplikasi akibat kehamilan. Jika pasien mengalami tanda-tanda
bahaya ini maka sebaiknya segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan
tindakan antisipasi untuk mencegah terjadinya kematian ibu dan janin.
Beberapa
tanda bahaya yang penting untuk disampaikan kepada pasien dan keluarga adalah
sebagai berikut.
1) Perdarahan
per vagina.
2) Sakit
kepala hebat.
3) Masalah
penglihatan.
4) Bengkak
pada muka atau tangan.
5) Nyeri
abdomen yang hebat.
6) Bayi
kurang bergerak seperti biasa. (Sulistyawati, 2014, h.107-142).
2.
Persalinan
a.
Definisi
persalinan
Persalinan
adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan plasenta) yang telah cukup
bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan
lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan sendiri).
b.
Sebab-sebab
mulainya persalinan
1) Estrogen
Berfungsi
untuk meningkatkan sensitivitas otot
rahim serta memudahkan penerimaan rangsangan dari luar seperti rangsangan
oksitosin, rangsangan prostaglandin, dan mekanis.
2) Progesteron
Berfungsi
untuk menurunkan sensitivitas otot rahim: menghambat rangsangan dari luar seperti
rangsangan oksitosin , prostaglandin dan mekanis, serta menyebabkan otot rahim
dan otot polos relaksasi. rangsangan
mekanis.
c.
Tanda
masuk dalam persalinan
a. Terjadinya
his persalinan
Karakter
dari his persalinan adalah :
a) Pinggang
terasa sakit dan menjalar kedepan
b) Sifat
his teratur, interval makin pendek, dan kekuatan makin besar.
c) Terjadinya
perubahan pada serviks.
d) Jika
pasien menambah aktivitasnya, misalnya dengan berjalan, maka kekuatannya
bertambah.
b. Pengeluaran
lendir dan darah (penanda persalinan)
Dengan
adanya his persalinan, terjadi perubahan pada serviks yang menimbulkan:
a) Pendataran
dan pembukaan.
b) Pembukaan
menyebabkan lendir yang terdapat pada kanalis servikalis terlepas.
c) Terjadinya
perdarahan karena kapiler pembuluh darah pecah.
c. Pengeluaran
cairan
Sebagian
pasien mengeluarkan air ketuban akibat pecahnya selaput ketuban. Jika ketuban
sudah pecah, maka ditargetkan persalinan dapat berlangsung dalam 24 jam. Namun
jika ternyata tidak tercapai, maka persalinan akhirnya diakhiri dengan tindakan
tertentu, misalnya section caesaria. (Sulistyawati, 2013, h 4-7)
d.
Tahapan
Persalinan
1) Kala
I (kala pembukaan)
Kala I dimulai dari
saat persalinan mulai (pembukaaan nol) sampai pembukaan lengkap (10 cm). Proses
ini terbagi dalam 2 fase, yaitu :
a) Fase
laten : berlangsung selama 8 jam, serviks membuka sampai 3 cm.
b) Fase
aktif : berlangsung selama 7 jam, serviks membuka dari 4 cm sampai 10 cm,
kontraksi lebih kuat dan sering, dibagi
dalam 3 fase :
(1)
Fase
akselerasi : dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm
menjadi 4 cm.
(2)
Fase
dilatasi maksimal : dalam waktu 2 jam
pembukaan berlangsung sangat cepat dari 4 cm menjadi 9 cm.
(3)
Fase
deselerasi : pembukaan menjadi lambat sekali,
dalam waktu 2 jam pembukaan 9 cm menjadi lengkap.
Proses
di atas terjadi pada primigravid ataupun multigravida, tetapi pada multugravida
memiliki jangka waktu yang lebih pendek. Pada primigravida, kala 1 berlangsung
±12 jam, sedangkan pada multigravida ±8 jam. (Sondakh,2013, hal.
5)
2)
Kala II (pengeluaran bayi)
Kala II adalah kala
pengeluaran bayi, dimulai dari pembukaan lengkap sampai bayi lahir. Proses ini
biasanya berlangsung 2 jam pada primipara dan 1 jam pada multipara.
60 LANGKAH
ASUHAN PERSALINAN NORMAL
Melihat tanda gejala kala dua
1.
Mengamati
tanda dan gejala kala dua
a.
ibu
mempunyai keinginan untuk meneran.
b.
Ibu
merasakan tekanan yang semakin meningkat pada rektum dan/ atau vaginanya.
c.
Perineum
menonjol.
d.
Vulva-vagina
dan sfingter anal membuka.
Menyiapkan
Pertolongan Persalinan
2.
Memastikan
perlengkapanm, bahm dan obat-obatan esensial siap digunakan. Mematahkan ampul
oksitosin 10 unti dan menempatkan tabuk suntik steril sekali di dalam partus
set.
3.
Mengenakan
baju penutup atau celemek plastik yang bersih.
4.
Melepaskan
semua perhiasan yang dipakai dibawah siku, mencuci kedua tangan dengan sabun
dan air bersih yang mengalir dan mengeringkan tangan dengan handuk satu kali
pakai/ pribadi bersih.
5.
Memakai
satu sarung dengan DTT atau steril untuk semua pemeriksaan dalam.
6.
Mengisap
oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik (dengan memakai sarung tangan
desinfeksi tingkat tinggi atau steril) dan meletakkan kembali di partus
set/wadah desinfeksi atau steril tanpa mengontaminasi tabung suntik).
Memastikan
Pembukaan Lengkap dengan Janin Baik
7.
Membersihkan
vulva dan perineum, menyeka dengan hati-hati dari depan kebelakang dengan
menggunakan kapas atau kaa yang sudah di basahi air desinfeksi tingkat tinggi.
Jika mulut vagina, perineum, atau anus terkontaminasi oleh kotoran ibu,
membersihkannya dengan seksama dengan cara menyeka dari depan klebelakang.
Membuang kapas atau kasa yang terkontaminasi dalam wadah yang benar.
8.
Dengan
menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan
pembukaan sudah lengkap.
9.
Mendekontaminasi
sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang memakai sarung tangan kotor
ke dalam larutan klorin 0,5%.
10.
Memeriksa
denyut jantung janin (DJJ).
Menyiapkan
ibu dan keluarga untuk membantu proses Pimpinanmeneran.
11.
Memebritahu
ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik. Membantu ibu berada dalam
posisi yang nyaman sesuai keinginannya.
12.
Meminta
bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran.
13.
Melakukan
pimpinan meneran saat ibu mempunyai kenginan untuk meneran.
Persiapan
pertolongan kelahiran bayi.
14.
Jika
kepala bayi sudahmembuka vulva dengan diameter 5-6 cm, letakkan handuk bersih
diatas perut ibu untuk mengeringkan bayi.
15.
Meletakkan
kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, dibawah bokong ibu.
16.
Membuka
pertus set.
17.
Memakai
sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.
Menolong
kelahiran bayi.
Lahirnya
kepala.
18.
Saat
kepala bayi membuka perineum 5-6 cm, lindungi perineum dengan satu tangan yang
dilapisi oleh kain.
19.
Dengan
lebut menyeka muka, mulut, dan hidung bayi dengan kain atau kasa bersih.
20.
memeriksa
lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai.
21.
Menunggu
hingga kepala melakukan putaran paksi luar.
Lahir
bahu
22.
Setelah
kepala melalukan putaran paksi luar, tempatkan tangan masing-masing sisi muka
bayi. Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi berikutnya.
23.
Setelah
kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang berada di
bagian bawah ke arah perineum, membiarkan bahu dan lengan posterior lahir ke
tangan tersebut.
24.
Setelah
tubuh bayi dan lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada di atas dari punggung
ke arah kaki bayi untuk menyangganya saat punggung jaji lahir. Memegang kedua
mata kaki bayi dengan hati-hati membantu kelahiran kaki.
Penanganan
bayi baru lahir
25.
Menilai
bayi dengan cepat(30 detik), kemudian meletakkan bayi di atas perut ibu dengan
posisi kepala bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya.
26.
Segera
membungkus kepala dan badan bayi dengan handuk dan biarkan kontak kulit
ibu-bayi. Lakukan penyuntikan oksitosin/i.m.
27.
Menjepit
tali pusat menggunakan tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat
bayi. Melakukan urutan tali pusat ke arah ibu dan memasang klem 2 cm dari klem
pertama.
28.
Memegang
tali pusat dengan satu tangan,melindungi bayi dari gunting dan memotong tali
pusat antaradua klem.
29.
Mengeringkan
bayi, mengganti handuk yang basah dan menyelimuti bayi dengan kain atau selimut
yang kering dan berish,menutup bagian kepal, membiarkan tali pusat terbuka.
30.
Memberikan
bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan memulai
pemberian ASI jika menghendakinya.
Oksitosin
31. Meletakkan kain yang bersih dan kering.
Melakukan palpasi abdomen untuk menghilangkan kemungkinan adanya bayi kedua.
32. Memberi tahu kepada ibu bahwa ia akan
disuntik.
33. Dalam waktu 2 menit setelah kelahiran
bayi, berikan suntikan oksitosin10 unit I.M.di gluteus atau 1∕3 atas paha kanan
ibu bagian luar.
Penegangan tali pusat
terkendali.
34.
Memindahkan
klem pada tali pusat.
35.
Meletakkan
satu tangan di atas kain yang ada di perut ibu, tepat di atas tulang pubis dan
menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi kontraksi dan menstabilkan
uterus.
36.
Menunggu
uterus berkontraksi dan kemudian melakukan penegangan ke arah bawah pada tali
pusat dengan lembut.
Mengeluarkan
plasenta
37. Setelah plasenta terlepas, meminta ibu
untuk meneran sambil menarik tali pusat ke arah bawah dan ke arah atas,
mengikuti kurva jalan lahir sambil meneruskan tekanan ke arah berlawanan.
38. Jika plasenta sudah berada pada bagian
introitus vagina, melanjutkan kelahiran plasenta dengan menggubnakan kedua
tangan.
Pemijatan
uterus
39.
Segera setelah plasenta
dan selaput ketuban lahir, melakukan masase uterus,meletakkan telapak tangan di
fundus dan melakukan masase dengan gerakan melingkar hingga uterus berkontraksi.
Menilai perdarahan
40.
Memeriksa kedua sisi
plasenta baik menempel ke ibu atau janin.
41.
Mengevaluasi adanya
laserasi.
Melakukan Prosedur Pascapersalinan.
42. Menilai
ulang uterus dan memastikannya berkontraksi dengan baik.
43. Mencelupkan
kedua tangan yang memakai sarung tangan kedalam larutan klorin 0,5%.
44. Menempatkan
klem tali pusat desinfeksi tingkat tinggi atau steril.
45. Mengikat
satu lagi tali simpul mati di bagian pusat yang bersebrangan dengan simpul mati
yang pertama.
46. Melepaskan
klem bedah dan meletakkannya dalam larutan klorin 0,5%.
47. Menyelimuti
bayi kembali bayi dan menutup bagian kepalanya.
48. Menganjurkan
ibu untuk pemberian ASI.
49. Melanjutkan
pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan pervaginam.
50. Mengajarkan
pada ibu atau keluarga bagaimana melakukan kontraksi uterus dan memeriksa
kontraksi uterus.
51. Mengevaluasi
kehilangan darah.
52. Memeriksa
tekanan darah,nadi,dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama satu jam
pertama dan 30 menit dalam satu jam kedua.
Kebersihan dan keamanan.
53.
Menempatkan
semua peralatan di dalamlarutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit).
Mencuci dan membilas peralatan setelah dekontaminasi.
54.
Membuang
bahan-bahan yang terkontaminasi ke dalam tempat sampah yang sesuai.
55.
Memebersihkan
ibu dengan menggunakan air desinfeksi tingkat tinggi.
56.
Memastikan
bahwaibu nyaman.membantu ibu memberikan ASI. Menganjurkan keluarga memberikan
ibu minum yang diinginkan.
57.
Mendekontaminasi
daerah yang digunakan untuk melahirkan dengan larutan klorin 0,5% dan membilas
dengan air bersih.
58.
Mencelupkan
sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%, membalikan bagian dalam ke
luar merendam nya dalam larutan klorin selama 10 menit.
59.
Mencuci
kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.
Dokumentasi
60.
Melengkapi
partograf (halaman depan dan belakang). (Prawirohardjo,2016
h,341-347)
3)
Kala III (pelepasan plasenta)
Kala III adalah waktu untuk pelepasan dan pengeluaran
plasenta. Setelah kala II yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit, kontraksi
uterus berhenti sekitar 5-10 menit. (Sondakh,2013, hal.6)
4)
Kala IV (observasi)
Kala
IV mulai dari lahirnya plasenta selama 1-2 jam. Pada kala IV dilakukan
observasi terhadap perdarahan pascapersalinan, paling sering terjadi pada 2 jam
pertama.
e.
Faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi jalanya proses persalinan
1) Penumpang
(passenger)
Penumpang dalam persalinan adalah janin
dan plasenta. Hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai janin adalah ukuran
kepala janin, presentasi, letak, sikap, dan posisi janin, sedangkan yang perlu
diperhatikan pada plasenta adalah letak, besar, dan luasnya.
2) Jalan
lahir (passage)
Jalan lahir terbagi atas dua, yaitu jalan
lahir keras dan jalan lahir lunak. Hal-hal yang perlu diperhatikan dari jalan
lahir keras adalah ukuran dan bentuk tulang panggul ; sedangkan yang perlu
diperhatikan pada jalan lahir lunak adalah segmen bawah uterus yang dapat
meregang, serviks, otot dasar panggul, vagina, dan introitus vagina.
3) Kekuatan
(power)
Faktor
kekuatan dalam persalinan dibagi atas dua, yaitu
a) Kekuatan
primer (kontraksi involunter)
Kontraksi
berasal dari segmen atas uterus yang menebal dan dihantarkan ke uterus bawah
dalam bentuk gelombang. Istilah yang digunakan untuk menggambarkan kontraksi
involunnter ini antara lain frekuensi, durasi, dan itensitas kontraksi.
Kekuatan primer ini mengakibatkan serviks menipis (effacement) dan berdilatasi sehingga janin turun.
b) Kekuatan
sekunder ( kontraksi volunter)
Pada
kekuatan ini, otot-otot diafragma dan abdomen ibu berkontraksi dan mendorong keluar
isi ke jalan lahir sehingga menimbulkan tekanan intraabdomen. Tekanan ini
menekan uterus pada semua sisi dan menambah kekuatan dalam mendorong keluar.
Kekuatan sekunder tidak memengaruhi dilatsi serviks, tetapi setelah dilatsi
serviks lengkap, kekuatan ini cukup penting dalam usaha untuk mendorong keluar
dari uterus dan vagina.
c) Posisi
ibu (positioning)
Posisi
ibu dapat mempengaruhi adaptasi anatomi dan fisiologi persalinan. Perubahan
posisi yang diberikan pada ibu bertujuan untuk menghilangkan rasa letih, memberi
rasa nyaman, dan memperbaiki sirkulasi. Posisi tegak (contoh: posisi berdiri, berjalan,
duduk, dan jongkok) memberi sejumlah keuntungan, salah satunya adalah
memungkinkan gaya gravitasi membantu penurunan janin. Selain itu, posisi ini
dianggap dapat mengurangi kejadian penekanan tali pusat.
d) Respons
psikologi (psychology response)
Respon
psikologi ibu dapat dipengaruhi oleh :
(1)
Dukungan ayah bayi/pasangan
selama proses persalinan.
(2)
Dukungan kakek-nenek
(saudara dekat) selama persalinan.
(3)
Saudara kandung bayi
selama persalinan. ``
f.
Kebutuhan
dasar selama persalinan
1) Makan
dan minum per oral
Jika
pasien berada dalam situasi yang memungkinkan untuk makan, biasanya pasien akan
makan sesuai dengan keinginannya, namun ketika masuk dalam persalinan fase
aktif biasanya ia hanya menginginkan cairan.
2) Akses
intavena
Akses
intravena adalah tindakan pemasangan infuse pada pasien.
3) Posisi
dan ambulasi
Posisi
yang nyaman selama persalinan sangat diperlukan bagi pasien. Selain mengurangi
ketegangan dan rasa nyeri, posisi tertentu justru akan membantu proses
penurunan kepala janin sehingga persalinan dapat berjalan lebih cepat.
4) Eliminasi
selama persalinan (BAB atau BAK)
a) Buang
air kecil (BAK)
Selama
proses persalinan, pasien akan mengalami poliuri sehingga penting untuk
difasilitasi agar kebutuhan eliminasi dapat terpenuhi. Jika pasien masih berada
dalam awal kala I, ambulansi dengan berjalan seperti aktivitas ke toilet akan
membantu penurunan kepala janin. Hal ini merupakan keuntungan tersendiri untuk
kemajuan persalinannya.
b) Buang
air besar (BAB)
Pasien
akan merasa sangat tidak nyaman ketika merasakan dorongan untuk BAB. Namun rasa
khawatir kadang lebih mendominasi dari pada perasaan tidak nyaman, hal ini
terjadi karena pasien tidak tahu mengenai caranya serta khawatir akan respons
orang lain terhadap kebutuhannya ini.
c) Kebersihan
tubuh
Sebagian
pasien yang akan menjalani proses persalinan tidak begitu menganggap kebersihan
tubuh sebagai suatu kebutuhan, karena ia lebih terfokus terhadap rasa sakit
akibat his terutama pada primipara. Namun bagi sebagian yang lain akan merasa
tidak nyaman atau risih jika kondisi tubuhnya kotor dan bau akibat keringat
berlebih selama persalinan.
d) Istirahat
Istirahat
sangat penting untuk pasien karena akan membuat rileks. Di awal persalinan
sebaiknya anjurkan pasien untuk istirahat yang cukup sebagai persiapan untuk
menghadapai proses persaalinan yang panjang, terutama pada primipara. Jika
pasien benar-benar tidak dapat tidur terlelap karena sudah mulai merasakan his,
minimal upayakan untuk berbaring di tempat tidur dalam posisi miring ke kiri
untuk beberapa waktu.
e) Kehadiran
pendamping
Kehadiran
seseorang yang penting dan dapat dipercaya sangat dibutuhkan oleh pasien yang
akan menjalani proses persalinan.
f) Bebas
dari nyeri
Setiap
pasien yang bersalin selalu menginginkan terbebas dari rasa nyeri akibat his.
His yang perlu ditekankan pada pasien adalah bahwa tanpa adanya rasa nyeri maka
persalinan tidak akan mengalami kemajuan, karena salah satu tanda persalinan
adalah adanya his yang akan menimbulkan rassa sakit. (Sulistyawati, 2013,
h.9-48).
g.
Luka perineum
1)
Konsep dasar
Perlukaan perineum umumnya terjadi unilateral, namun dapat juga
bilateral.Perlukaan pada diafragma urogenitalis dan muskulus levator ani, yang
terjadi pada waktu persalinan normal atau persalinan dengan alat, dapat terjadi
tanpa luka pada kulit perineum atau pada vagina, sehingga tidak kelihatan dari
luar.Perlukaan demikian dapat melemahkan dasar panggul, sehingga mudah terjadi
prolapsus genetalis. Luka perineum setelah melahirkan ada 2 macam yaitu :
a) Ruptur adalah luka
pada perineum yang diakibatkan oleh rusaknya jaringan secara alamiah karena
proses desakan kepala janin atau bahu pada saat proses persalinan. Bentuk
ruptur biasanya tidak teratur sehingga jaringan yang robek sulit dilakukan
penjahitan.
b) Episiotomi adalah
sebuah irisan bedah pada perineum untuk memperbesar muara vagina yang dilakukan
tepat sebelum keluarnya kepala bayi.
2)
Derajat laserasi
jalan lahir
Laserasi jalan lahir diklasifikasikan berdasarkan luasnya robekan
yaitu sebagai berikut :
a)
Derajat I :
Mukosa vagina, komisura posterior, kulit Perineum.
b)
Derajat II : Mukosa vagina, komisura posterior, kulit Perineum, dan otot
perineum.
c)
Derajat III : Mukosa vagina, komisura posterior, kulit Perineum, otot perineum,
dan otot sfingter ani eksternal.
d)
Derajat IV : mukosa vagina, komisura posterior, kulit Perineum, otot perineum,
otot sfingter ani eksternal, dan dinding rektum anterior.
3)
Jenis episiotomi
Jenis
perineum yaitu :
a)
Jenis medial
Episotomi garis
tengah atau median sayatan dibuat pada garis tengah yang dimulai dari bagian
ujung bawah introitus vagina atau garis tengah komissura posterior hingga
mencapai batas atas otot sfingterani dan tidak sampai terkena serabut sfinte
ani .
b)
Insisi lateral
Sayatan insisi lateral dilakukan kearah
lateral ,dimulai searah jarum jam 3 atau 9. Jenis episotomi ini sekarang tidak
dilakukan lagi karena banyak nmenimbulkan komplikasi.
c)
Insisi mediolateral
Insisi ini tergolong aman dan mudah
diakukan,sehingga paling sering diterapkan. Guntingan harus dimulai pada titik
tengah lipatan kulit tipis pada belakang vulva dan diarahkan ke tuberrositas
iskal dan bantalan isiorektal. Jenis episotomi ini dibuat dengan sayatan berupa
garis tengah kearah samping menjauhi anus yang dilakukan untuk menjauhi anuss
yang dilakukan untuk menjauhi otot sfingter ani, sehingga rupture perenium
tingkat III bias dicegah.
4)
Alasan dilakukan
episiotomi
Episotomi
diperlukan jika :
a) Jika perenium tidak bisa meregang secara
perlahan
b) Kepala bayi mungkin terlalu besar untuk lubang
vagina
c) Ibu tidak bisa mengontrol keinginan meneran
sehingga ibu harus berhenti meneran
d) Bayi tertekan
e) Persalinan dilakukan dengan forcep
f) Bayi sungsang.
5)
Fungsi episiotomi
Fungsi episiotomi
meliputi:
a)
Episotomi menciptakan luk yang lurus dngn
pingggiran yang tajam, sedangkan rupture perenium yang spontan bersifat luka
koyak dengan dinding luka yang bergerigi lebih mudah dijahit dan penyembuhan
lebh memuaskan.
b)
Luka lurus dan tajam lebih mudah dijahit
c)
Mengurangi tekanan kepala bayi
d)
Mempersingkat kala II
e)
Mengurangi kemungkinan terjadinya rupture
peenium totalis
6)
Keuntungan
episiotomi
Keuntungan episotomi dilihat dari segi
anatomis maupun fungsional penyembuhannya baik, penjahitan lebih mudah. Selain
itu keuntungan episiotomi adalah sebagai berikut:
a) Perlukaan teratur
sehingga memudahan untuk menjahit kembali
b) Luas insisi
episotomi dapat diatur sesuai dengan kebutuhan
c) Bagian venter otot-otot
tidak terpotong
d) Perdarahan lebih
sedikit daripad insisis lainya
e) Nyeri pasca bedah
sedikit
f) Penyembuhan baik dan
jarang terjadi jahitan terbuka didaerah insisi.
7)
Kerugian episotomi
Episiotomi banyak menimbulkan dispareunia sakit saat berhubungan
sex, selain itu adanya rasa nyeri dimana nifas terlalu hebat dan jahitan sukar
lepas ,wanita yang dilakukan episiotomy mempunyai resiko untuk terjadi infeks
karena adanya tindaakn merusak jaringan dan membuat jaringan tersebut terbuka
sehingga memungkinkan organisme pathogen masuk melalui darah tersebut.
8) Jaringan yang di
insisi pada episiotomi
Dalam melalkukan episiotomi jaringn sekitar perenium yang akan ikut
serta terluka dan perlu dijahit kembali adalah:
a) Epitel vagina dan
kulit perenium
b) Fascia colles dan
muskulus bulbokavernosus
c) Muskulus perenial
superfisialis dan profunda
d) Sfingter ani
eksternal (sering disebut perluasan ruptur)
e) Muskulus levator ani
9) Persiapan dan metode
episiotomi
Ada beberapa persiapan yangHarus dilaukan saat menjalani episiotomi
ini yakni:
a) Bidan menejlaskan
pada pasien alsan dilakukan episiotomi dan menjelaskan prosedur secara lengkap
a) Bidan menjelaskan
tentang pertimbangan indikasi untuk kesehatan serta kenyamanan anak dan ibu.
b) Mempersiapkan alat
yang dibutuhkan.
c)
Melakukan tindakan
episiotomi, pertama suntikan anastesi atau lidokain searah dengan kipas.
Tindakan episiotomi dilakukan saat kepala bayi meregang, lakukan episiotomi
dengan cepat. Jari telunjuk dan jari tengah diletakan pada kepala bayi dan
perenium searah untuk melindungi kepala bayi. sesudah fase acme/ puncak
berlangsung maka gunting akan diselipkan dalam posisi terbuka diantara jari
telunjuk dengan jari tengah dan mengarah ke sudut yang direncankan, lalu
perenium digunting sekitar 3-4 cm dengan arah medio lateral memakai 1 atau 2
guntingan.
1)
Penyembuhan luka
episiotomi
Menurut (walsh,2008), proses penyembuhan terjadi dalam tiga
fase,yaitu:
Fase1 : segera setelah cedera respons peradangan menyebabkan
peningkatan aliran darah ke area luka,meningkatkan cairan dalam jaringan,serta
akumulasi leukosit,dan fibrosit.
Fase 2: setelah beberapa hari kemudian, fibroblast akan membentuk
bennag benang kolagen pada tempat cedera.
Fase 3 : pada akhirnya jumlah kolagen yang cukup akan melapisi
jaringan yang rusak kemudian menutup luka.
2)
Penghambat proses
penyembuhan episiotomi
Ada beberapa factor yang akan memenagruhi
proses penyembuhan episotomi ini yakni:
a)
Kurangnya nutrisi ,sehingga proses
penyembuhan akan berjalan lambat.
b)
Kebiasaan buruk seperti merokok
c)
Sudah berada di usia yang tidak lagi muda
d)
Meningkatnya kortikosteoid karena stress
e)
Gangguan pada oksigenasi yang menggangu
sintesis
f)
kolagen, sehingga akan me nghambat
epitelisasi dan menyebabkan terjadinya infeksi
3)
Tips merawat luka
episiotomi
a)Hindari mengangkat
barang atau beban yang terlalu berat, serta aktivitas berat yang menggangu
perenium.
b)
Hindari stress terlalu berlebihan, jangan
terlalu melakukan banyak pergerakan perenium.
c)Minum air putih yang
cukup untuk mengurangi terjangkitnya kuman,khususnya di area vagina
d)
Bagi penderita diabetes,perhatikan
kestabilan gula daarah karena jika terlalu tinggi akan memperlmbat penyembuhan
luka episotomi tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar